Beda Pimpinan Beda Kepentingan


Yah satu hal yang kadang selalu terjadi di lingkup kerja, saat pimpinan mesti berganti, atau mutasi ke unit lain dan akhirnya memiliki pimpinan baru, kita mesti menyesuaikan diri, atau kita akan kelimpungan nantinya. Demikian juga yang terjadi di negeri ini, masih ingat zaman Orde Baru, hancur oleh Reformasi, dan reformasipun sepertinya kebablasan, pembatasan masa kepemimpinan memang bertujuan baik, tapi saat kepemimpian mesti berganti dan berganti pula arah pembangunan negeri ini, siapa yang rugi ? Lagi-lagi rakyatlah yang jadi korban, karena duit pembangunankan dari pajak rakyat.. iya tho.

Demikian juga Kepemimpinan di tingkat 1, sebagai contoh DKI Jakarta, masih ingat tulisanku copast dari Wikipedia tentang Waterway, di situ jelas ambisi Sutiyoso untuk mengembangkan Pola Transportasi Makro (PTM). Dalam PTM disebutkan bahwa arah penataan sistem transportasi merupakan integrasi beberapa model transportasi yang meliputi Bus Rapid Transit (BRT), Light Rapid Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT), dan Angkutan Sungai (Waterways). rencana LUAR BIASA, atau ambisi ? Dan mana yang berlanjut serius setelah berganti Wagubnya jadi Gubernur ?, Fauzi Bowo yang lebih akrab disaba Bang Foke sepertinya beda lagi pemikiran dalam pengembangan DKI Jakrta, penanganan anti banjir dengan slogan SEERAHKAN KE AHLINYA ini, ternyata belum mumpuni, wilayah langganan banjir masih rajin menerima air luapan saat hujan.

Sebagai orang awam yang jarang baca berita, cuma melihat dari fisik pembangunan, secara nalar pribadi, kok kaya ga nyambung antara misi pembangunan yang diusung Sutiyoso dengan Bang foke ini. (nyangkut kali di kumis Kang 😀 ) entahlah.. Beberapa proyek dihentikan, bahkan kesannya dibekukan, oke lupakan monorail yang sejak 20 September 2011 kemaren si Kumis dengan resmi menyatakan pemberhentian projek, dan diminta mengganti duit proyek sesuai angka yang diajukan PT Jakarta Monorel sebesar Rp600 miliar, tapi Foke menyatakan cuma sanggup membayar ganti rugi sebesar Rp204 miliar. Entah proses penyelesaiannya seperti apa.

Nah inilah perbedaan paling mencolok dari kedua pimpinan tadi, Jika Sutiyoso membangun Busway (Jalan Bus Trans Jakarta) numpang ke Jalan eksisting, alias jalan raya yang ada, maka Fauzi bowo akan membangun jalan baru, jalan layang yang jelas menelan dana lebih banyak, jika dibanding pengembangan Busway dan menambah koridor dengan menempel jalan raya yang ada. Okslah, aku bukan ahli Landscape apalagi tata ruang kota, tapi apakah jalan layang itu jalan terbaik ? kita tunggu kebijakan Gubernur selanjutnya, apakah jika ganti gubernur akan ada tiang jalan layang yang belum jadi MANGKRAK seperti tiang monorail yang batal ? mudah-mudahan, pimpinan kita tidak menghamburkan uang rakyat secara percuma.

Perencanaan pembangunan semestinya melibatkan para pakar yang cerdas, termasung ahli acounting yang mampu menghitung dana yang diperlukan, apakah perencana monorail itu melibatkan orang TOLOL sehingga tidak becus ngitung ? Cari pemimpin sejati memang susah, apalagi dimasa di mana segala sesuatu dipolitisasi, gak ngerasa kalo yang dipakai, termasuk baju yang mereka pakai, mobil, rumah dinas, itu duit rakyat Cing, jangan kau hamburkan percuma demi kepentingan yang wagu….

Wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di pelayanan publik dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Beda Pimpinan Beda Kepentingan

  1. blognyamitra berkata:

    Kata Foke You : Monorail dihentikan saja, lebih baik biqin jalan tol…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s