Ibnul Qoyyim berkata, “Termasuk perkara yg MENGAGUMKAN jika seseorang menjaga dirinya dari makanan yg diharamkan atau berbuat zalim, berzina, mencuri, meminum khamar dan melihat kpd perkara yg diharamkan dan lainnya, namun SULIT bagi seseorang menjaga dan menahan garakan lisannya, bahkan org yg dikenal sebagai org yg istiqomah dlm agama, zuhud dan ahli ibadah terkadang dia berbicara dgn kata-kata yg mendatangkan kemurkaan Allah, hal itu terjadi TANPA DISADARINYA, sehingga dgn 1 kata itu dia terjebak ke dlm api neraka pd kedalaman yg lebih jauh dari masyrik dan magrib, terkadang engkau bisa menyaksikan org yg menjaga dirinya dari perbuatan keji dan zalim, namun lisannya mencincang dan menyembelih kehormatan org yg hidup dan mati, tanpa dirinya menyadari apa yg telah diucapkannya itu” (Al-Jawabul Kafi liman Sa’ala anid Dawa’is Syafi: halaman: 140)
Muhammad bin Wasi’ berkata kepada Malik bin Dinar: Wahai Abi Yahya, menjaga lisan lebih sulit bagi manusia daripada menjaga harta dinar dan dirham” (Ihya ulumuddin: 3/120)
Sebagian ahli ilmu berkata: Lisan memiliki dua bencana yg besar, jika seseorang selamat dari 1 bencana maka dia tidak akan selamat dari bencana yg lainnya, yaitu
bencana diam terhadap kebenaran atau bencana berbicara dalam kebatilan, bahkan terkadang, dalam suatu saat salah satu dari keduanya lebih berbahaya dari yg lain, maka org yg diam terhadap kebenaran adalah setan yg bisu, bermaksiat kpd Allah, riya’, cari muka jika dia tidak khawatir terhadap dirinya. Seperti org yg melihat kemungkaran di hadapan matanya padahal dia mampu mengubahnya namun hal itu tidak dilakukannya.
Diriwayatkan oleh Abi Sa’id Al-Khudri r.a bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Barangsiapa di antara kalian yg melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubahnya dgn tangannya dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia mengubahnya dgn LISANNYA, lalu jika dia tidak mampu maka hendaklah dia mengubahnya dgn hatinya, dan itu adalah cermin selemah-lemah keimanan” (HR. Muslim: no: 49)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh [*], dan teman sejawat, ibnu sabil [**] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (An Nisa : 36) [*] Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang muslim dan yang bukan muslim. [**] Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma’shiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.
Wassalamu’alaikum.
Forward dari MHC FB oleh Zoel Fikr
meneng.
SukaSuka
Angel
SukaSuka
lidahmu pedangmu
SukaSuka
mulutmu harimaumu
SukaSuka
Jadi inget waktu TK/SD, guru sering ngomong mulutnya dikunci yaaaa….ternyata ada makna yg tersirat dari itu 🙂
SukaSuka
@maskur : ja brisik
@bjl : jajal maning
@roso : awas kebacok
@pak Deguh : awas nggigit
@Vixy : tul tul betul
SukaSuka
Diam itu emas…
SukaSuka