Walahar Express Pagi, Gerbong 1


Salah satu transportasi umum andalan warga Subang, Purwakarta, Karawang dan Bekasi Kabupaten untuk menuju Jakarta adalah Kereta Api lokal. ada 2 nama Kereta Api Lokal yang akrab dengan saya, yaitu Jatiluhur Express dan Walahar Express.

Kereta Api Lokal, Sahabat Baru Saya | Triyanto Banyumasan Blog's

Khusus untuk Tujuan Purwakarta – Tanjung Priok adalah Walahar Express. Pagi hari, biasa disebut kereta ketiga adalah jadwal Walahar Express langganan saya. Jadwal terakhir kereta api lokal yang berangkat jam 06.50 wib dari stasiun Karawang. Kenapa saya memilih jadwal terakhir? Karena berangkat pada jam tersebut saya tidak terlalu terburu-buru untuk bersiap dan berangkat. Saat berangkat saya juga bisa sekalian antar anak sekolah. Sedang jadwal sebelumnya, yaitu jam 05. dan 05, terlalu pagu bagi saya.

Gerbog 1 , entah dari kapan saya memilih gerbong 1 sebagai kereta saya. Dulu saya langganan di gerbong kedua dari belakang. Tapi karena bosan dan pemeberhentian terakhir di Priok terlalu jauh dari pintu keluar, akhirna saya berpindah ke gerbong pertama.

Di gerbong 1 ini saya juga lebih cepat akrab dengan penumpang lain. Kok bisa akrab. Karena penumpang KA lokal adalah penumpang langganan harian, artinya mereka tiap hari (hampir ) selalu naik KA Lokal ini dan cenderung berada di gerbong yang sama bahkan tempat duduk yang sama, kalo maih kebagian tempat duduk tentunya. Maklum, ka lokal , adalah kelas ekonomi yang cenderung padat tiap hari.

Karena penumpang langganan, maka saya tiap hari akan bertemu dengan penumpang yang sama. Dan kelamaan akrab meski kita tidak pernah kenalan. Mereka yang akrab merupakan penumpang lama. SUdah bertahun tahun bahkan puluhan tahun mengguanakan moda transportasi kereta api lokal ini. Oh iya, dulu, kereta ini diskenal dengan kereta odong-odong, karena keretanya berantakan dan banyak pedagang asongan di dalamnya. Tapi semenjak Pak Jonan berbenah, semua kereta api dan MRT/KRL menjadi rapi dan lebih nyaman. AC terpasang cukup mendinginkan suasana.

Kembali ke gerbong 1 Walahar Express pagi. Ada apa si di dalamnya? Tidak terlalu istimewa, hanya saja di gerbong 1 penumpangnya lebih familiar dibanding gerbong belakang. Di sini lebih mudah bersosialisasi. Saling tegur sapa layaknya bermasyarakat. Sampai saya kenal nama-nama mereka meski mereka tidak kenal saya. Saya merasa sudah lam sekali semenjak WFH tidak merasakan keriuhan gerbong 1 pagi, kangen suasananya.

Pak Asep, Saya tidak tahu naik dari stasiun mana, mungkin Kosambi. Berperawakan sedang khas Indonesia. Tinggi badan kisaran 165cm , bahkan mungkin kurang dari itu. Umur kisaran 43 tahun menurut saya. Tampilan utamnaya, mengenakan baju bermotif mirip flanel, kadang lengan panjang kadang pendek, Ciri khas utama Pa Asep adalah mengenakan kacamata hitam atau riband. Karena terbiasa melihatnya berkacamata, maka akan nampak aneh jika melihatnya tanpa ‘obat-ganteng’ satu itu. Orangnya supel, terutam terhadap perempuan, sama sesama penumpang gerbong 1 akan dikenal sedikit playboy. Tapi hampir kepada semua penumpang perempuan. Karenanya Pa Asep kerap diledek sama sesama penumpang, apalagi jika bareng sama salah satu penumpang wanita muda gemuk yang akrab disapa ‘Eneng’. Meski tidak sebenarnya punya hubungan khusus, tapi keduanya cuek aja. Pa Asep biasa turun di dekat stasiun Jatinegara. Ya dekat stasiun bukan di stasiun. Akan di jelaskan lain kali.

Pa Jaja. Sesama penumpang dari Karawang, entah kapan mulai akrab dengan saya, tiap ketemu di stasiun kami selalu bersalaman, bahakan saat anjuran untuk tidak salaman dikumdangkan pemerintah. Pak Jaja Berpenampilan sederhana, kacamata sambung (plus/minus) untuk baca, jaket kain, topidan tas punggung. Umur kisaran 50 atau lebih sedikit. Uniknya, Pa Jaja hampir selalu bareng sama anak perempuannya yang kuliah di Jakarta. Kadang juga berbeda jam berangkat, naik kereta berbeda, anaknya lebih sering naik kereta jadwal sebelumhya. Karena hal ini, Pa Jaja kerap diledek sama sesama penumpang saat bareng sama anaknya. “Wah Pa Jaja ada Bodyguardnya, ga bisa berulah nih”. Yah sekedar candaan, pada kenyataannya, Pa Jaja orangnya kalem dan kebapaan banget. Oh iya karena topinya yang bertuliskan DJ, Pak Jeje sering disapa Pak Dije. Pak Jaja turun di Stasiun Senen.

Pak Andri. Entah naik dari stasiun mana, yang pasti sebelum Karawang. Orangnya Masih muda, mungkin seumuran saya atau lebih tua sedikit, banyak bicara. Nada bincara khas, kalem dan dalam. Pelan tapi berwibawa, dibanding lain. Suaranya seolah tidak menggambarkan mukanya, terdengar lebih tua. Topi hampir tidak pernah lepas dari kepalanya. Tas punggung yang selalu dilapis raincoat warna kuning. Akrab dengan hampir separuh gerbong 1 sisi depan. Banyak bicara hanya saat ada ‘tim hore’ yang memang sering bareng dan akrab, tapi saat tidak ada yang akrab, termasuk berdua dengan saya, dia akan diam. hanya sedikit anggukan dan beberapa kata basa-abasi. Pak Andri turun di Stasiun Senen. Tapi saat pulang dia akan naik dari Priok bareng saya pada jadwal Ka Lokal yang terakhir.

Pak Fajri alias Pak Menteri. Entah mengapa sosok bapa satu ini akrab disapa dengan panggilan Pak Menteri, saya kurang paham, karena saya memang pendatang baru di gerbong 1 sisi depan ini. Pak Fajri saya lihat selalu mengenakan baju batik. Mungkin karena hal inilah dia dipanggil Pak Menteri, atau hal lain, saya kurang paham. Bekerja di perusahaan dan menangani lebih khusus ke Pendingin. Kurang lebih demikian yang saya dengar dari obrolannya dengan sesama penumpang. DIa masih satu marga dengan saya, ‘Ngapakers’. Kalo tidak salah dia berasal dari Kebumen. Logat bicara meski memakai bahasa Indonesia, tapi tidak lepas dari kata “apik” yang khas Banyumasan untuk menggambarkan sesuatu yang bagus. Sampai semua rekannya kerap meledek dengan kata tersebut dan logat yang dibuat-buat ngapak Banyumasan. Oh iya, ngapak Banyumas berbeda dengan ngapak Tegal/Bumiayau, meski kadang orang menyamakan, karena mirip dan memang tetanggaan. Umur Pa Fajri kisaran mendekati 50 tahun Atau lebih sedikit. Meski demikian, masih nampak gagah dan fit. Pak Fajri kerap turun bareng Pa Asep di sekitar stasiun Jatinegara.

Pak Heri. Seumuran Pak Andri dan Pak Asep menurutku. Kalo tidak salah naik dari stasiun Klari. Satu stasiun sebelah timur stasiun Karawang. Orangnya percaya diri. Lebih sering mengenakan kaos oblong. Dari cerita yang saya dengar, sepertinya Pak Heri bekerja di pasar mobil Kemayoran. Orangnya seru. Gaya bicara penuh percaya diri.

Masih banyak lagi orang-orang yang saya kenal di gerbong 1 walahar express pagi. Sesekali mungkin saya akan swafoto dengan mereka. Sekedar kenangan untuk dibaca saat kami sama-sama pensiun. Juga masih ada kisah yang mewarnai penumpang ini. Mulai sekedar salaing kunjung saat hajatan atau sekedar bertamu, saling membawa makanan untuk dinikmati bersama di gerbong sampai kisa kasih yang tersamarkan. Unik, tapi itulah mereka, para penumpang ekonomi yang sebagian bukanlah kelas ekonomi, tapi gaya mereka tetaplah ekonomi dan membumi.(tri)

 

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di sosial budaya, transportasi publik dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s