Ngobrol di Angkutan Umum


Apakah Pembaca naik angkutan umum? Oh iya, selama wabah Corona Covid-19 ini, pemerintah menyarankan orang yang bepergian untuk menggunakan kendaraan pribadi. Tentu untuk jarak pendek, karena kita (yang perantauan) juga dianjurkan tidak mudik ke kampung halaman, kalopun mudik, di kampung akan disuruh self quarantine atau karantina mandiri sama pak RT. ini real loh, bukan sekedar berita di tv. Kakaku mengalaminya, meski dia akhirnya memilih kabur ke kebon untuk merawat kebun dan pulang setelah Magrib atau nuggu sepi biar tidak tertangkap Pak RT atau warga yang anti sama ‘mudikers’. Ya, pasti jenuh kalo harus seharian di dalam rumah, apalagi selama 14 hari. Tidak terbayang.

Karena saya yang Working From Home (WFH) tetap masih bisa ke masjid untuk shalat berjamaah. Ya, di temapat saya tinggal, seolah tidak terjadi apa-apa. Semua berjalan normal. Mungkin karena di kampung. Yang dagang tetap berjualan, baik pedagang kelontong maupun jajanan seperti martabak, sate maranggi, sosis bakar dan lain sebagainya. Shalat 5 waktu dan shalat Jumat juga tetap diadakan berjamaah di masjid dan mushola. Pemerintah daerah juga melakukan disinfeksi di beberapa masjid, termasuk masjid kami.

Kembali ke pembahasan angkutan umum dan isinya, yaitu penumpang. Penumoang umum tentu saja dengan berbagai sifat dan budaya. Nah kadang kebiasaan atau budaya penumpang yang satu tidak cocok dengan penumpa lain. Hal paling umum adalah ngobrol, baik antar penumpang maupun dengan lawan bicara di tempat lain lewat ponsel. Dan yang kadang bisa mengganggu penumpang lain.

Mengobrol memang hal biasa, tapi kalo tidak memahami kondisi lingkungan sekitar, hal tersebut bisa jadi hama pengganggu bagi orang lain, apalagi di tempat umum, lebih khusus angkutan umum yang kerap penuh.

Mengobrol sesama penumpang masih sedikit dimaklumi meski dengan suara keras dan mengganggu gendang telinga. Yang muncul lain lagi, mengobrol dengan lawan bicara lewat ponsel dan dengan suara kencang. Orang seperti ini biasanya karena tidak bisa dan tidak biasa sendirian. Biasanya dia naik angkutan umum dengan teman atau rekan lain yang bisa diajak ngobrol, bisa juga karean terpisah tempat duduk, maklum ini angkutan umum, tidak bisa memilih tempat duduk.

Karena tidak ada rekan ngobrol maka dia mencari rekan ngobrol lewat ponsel. Dan kebiasaan buruknya tetap muncul, yaitu bicara dengan suara yang kencang. Disinyalir satu gerbong kereta api lokal bisa mendengar suaranya. Ya, ini kejadian di kereta api lokal Jakarta – Cikampek. Jadwal terahir

Nah bagi pembaca yang memiki kebiasaan mengobrol di tempat umum, coba sesekali recording suara kalian, seberapa jauh jarak jangkauannya. Terutama saat menelpon. Jangan sampai mengobrolin rahasia tapi bisa di dengar oleh orang banyak. Dan, coabalah untuk bertahan diam sendirian di tempat umum. Tidak selamanya anda memilik orang lain yang menemani setiap saat.(tri)

 

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di sosial budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s