Alhamdulillah, Jalan TOL Macet


Pernahkah pembaca saat menjadi pengguna jalan, dan mendapati jalan yang anda lalui ternyata macet, lantas anda bergembira. Bersorak serta mengucap syukur ke hadirat ilahi?

Pasti langka, tapi yaqin ada. Dan saya salah satunya. Bukan karena kealiman saya yang kerap dibuat-buat biar nampak alim layaknya manuasia super yang enggan mengeluh, meski bersyukur merupakan salah satu kewajiban manusia atas nikmat-Nya.

Saya bersyukur atas macetnya jalan TOL kala itu, karena salah satu case yang saya alami. Apa itu? Pingin pipis

Yups, saya yang biasa dimanjan oleh KA lokal, yang memiliki toilet untuk buang hajat, terkadang terpaksa beralih ke bis AKAP yang seadanya. Alias tidak memiliki kamar kecil untuk buang hajat.

Nah satu waktu, saat naik bis menuju tempat nguli, saya gak tahan pengin pipis, saya nanya ke kondektur, pemberhentian katanya masih jauh, kendaraan dilarang berhenti di TOL. Alhasil saya harus menahan si ‘olifier’ agar mampu bertahan sampai titik pemberhentian.

Alhamdulillah, nampaknya kondektur memahami apa yang saya rasakan. Ya karena saya bilang ke dia, bahwa saya pengin pipis ga nahan, si ‘olifier’ rasanya mau ngamuk, meronta, berontak, menendang, menikam, mengerang, dan me yang lainnya.

Kata kondektur, mumpung macet sono minggir cari pelampiasan buat si ‘olifier’, tapi jangan di pintu bis. Kurleb begitu lah wejangan resi kondektur, yang entah kenapa saat itu berubah layaknya resi padepikan yang bijaksana dengan blankon, sarung dan baju putih khas sesepuh perguruan.

Saya turun bis, masih mikir, apa iya saya tega membiarkan ‘olifier’ menghempaskan amarah ya di tempat terbuka. Beruntung, jalan tol yang sedang perbaikan itu memiliki pagar seng di pinghirannya, bergegas saya berlari ke balik pagar, dan sret, sret…. Sorrrrrrrr… Ah… Lega. ‘olifier’ pun tersenyum malu-malu sambil beringsut. Kurogoh saku, sekali lagi beruntung ada tisu yang entah dari kapan berada di saku tersebut, sehingga ‘olifier’ tidak perlu berciuman dengan tiga sudut batu untuk membersihkan liurnya.

Selesai, bergegas saya kembali ke jalan, berlari mengejar si TAYO yang mulai menjauh perlahan. Alhamdulillah kembali duduk di bis dan melanjutkan bobo siang hingga pemberhentian terakhir.

Sudahkah pembaca bersyukur hari ini? Alhamdulillah (tri)

——————

Posted by Oppo A57 at Bus TAYO Warga Baru, Priok 16.14

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di transportasi, transportasi publik dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Alhamdulillah, Jalan TOL Macet

  1. indomoto berkata:

    Saya dulu juga suka begitu, saat bis malam masih lewat pantura šŸ™‚

Tinggalkan Balasan ke indomoto Batalkan balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s