Jangan Ucap janji Karena Commuter Line Tidak Pasti


stasiun bekasi.jpgSudah hampir 2 bulan jadwal dan trafik Kereta Listrik Commuter Line Jabodetabek tidak pasti. Penyesuaian jadwal baru dan adanya gangguan di beberapa titik menjadi alasan KAI dan KCJ. 2 bulan, itu yang saya rasakan, padahal di 2014 saya bisa mengandalkan jadwal Commuter Line dengan tenggang waktu yang bisa dipastikan, meski ada selisih, tidak sampai 30 menit. Bahkan kerap tepat waktu.

2 bulan belakangan, perjalanan menggunakan transportasi masal kebanggan warga Jabodetabek ini menjadi tidak pasti.

  • Delay kedatangan KRL dari jadwal yang ada sehingga terjadi penumpukan penumpang di suatu setasiun.
  • Perjalanan tersendat karena menunggu sinyal masuk sebuah setasiun, bergantian dengan kereta lain, baik kereta api luar kota maupun sekedar lokomotif yang parkir
  • Berulang menunggu sinyal dalam sekali perjalanan (Jatinegara – Bogor, kerap menjelang atau di setasiun Gang Sentiong, Bogor – Jatinegara, Kerap menjelang atau di setasiun Rajawali dan Kemayoran).
  • Lama sinyal bisa mencapai 15 menit. Ini adalah sebuah kerugian waktu bagi kami yang ditunggu jam kerja.

Karena delay dan terhalang sinyal akibat jadwal yang belum fix, membuat saya bisa tidak dipercaya, baik oleh rekan kerja. Seperti pada Senin kemarin. Kesepakatan masuk kerja pagi, dengan estimasi perjalanan 1,5 jam sempat molor hampir 3 jam. Sungguh ini mencoreng nama baik saya, karena saya terlambat 1 jam dari jadwal seharusnya. Kalo posisi menuju rumah, alias di jam pulang kerja, saya paling diomelin anak yang nungguin sampai terkantuk-kantuk. Tapi kalo menyangkut korporasi, pada kondisi normal tentu sulit ditolerir. Terlambat ya tetap terlambat, jangan salahakan angkutan umum. Maka berjayalah produsen otomotif roda dua, karena sepeda motor tetap menjadi pilihan alat transportasi yang mangkus dan sangkil dalam mobilitas sehari-hari.

Nah dari kasus di atas mungkinkah penumpang KRL melakukan Clas Action? 

Dari Sindonews.com : Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, PT KAI dan PT KCJ tentunya mempunyai Standar Pelayanan Minimum (SPM). Bila ada beberapa SPM yang tidak terpenuhi tentunya PT KAI dan PT KCJ harus memberikan kompensasi seperti yang dilakukan oleh maskapai penerbangan bila pesawat mengalami delay. “Seharusnya PT KAI dan PT KCJ memberikan kompensasi kepada penumpang bila jadwal perjalanan Commuter Line mengalami keterlambatan. Penumpang juga bisa melakukan classs action bila kurang baiknya pelayanan PT KAI dan PT KCJ,” tegas Tulus Abadi saat dihubungi Sindonews, Rabu 13 Mei 2015.

Yang pasti, jangan berjanji untuk datang tepat waktu, karena tenggang 1 jam dari waktu yang ditentukan, belum tentu terpenuhi jika bertansoprtasi menggunakan Commuter Line. Bagaimana menurut pembaca?(tri)

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di angkutan umum, transportasi publik dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s