Kesadaran Berlalu Lintas dan Pengendalian Jumlah Kendaraan adalah Kunci Mengatasi Kemacetan Ibukota


Jl.Manggaduaraya, depan ITC

Jl.Manggaduaraya, depan ITC

Apakah tadi anda berkendara saat berangkat dan pulang kerja? Apakah anda menemui kemacetan yang signifikan? Kalo iya, apa kiat yang tepat menurut pembaca untuk menangani kemacetan atau kepadatan lalu lintas? Khususnya di kota-kota besar. Nah di sini, Indonesia Traffic Watch (ITW) menyoroti kepadatan kendaraan di ibukota. Lebih mudah disebut kemacetan ibukota dan menyatakan bahwa pelebaran dan penambahan ruas jalan oleh pemerintah tidak akan mampu mengatasinya. Berikut selengkapnya

Indonesia Traffic Watch (ITW) mendesak Pemerintah untuk menghentikan proyek pembangunan ruas jalan di Ibukota Jakarta. Sebab untuk mewujudkan Keamanan, Keselamatan, Ketertiban dan Kelancaran (Kamseltibcar) lalu lintas di Ibukota Jakarta, tidak akan efektif jika hanya menambah ruas jalan baik tol maupun non tol.
 “ Permasalahan lalu lintas di Jakarta tidak akan selesai jika dijawab hanya dengan membangun ruas jalan yang baru,” kata Ketua Presidium ITW, Edison Siahaan,Kamis (7/5).
Menurutnya, hingga saat ini Pemprov DKI hanya fokus pada pembangunan fisik seperti ruas jalan baik itu jalan tol dan non tol. Sementara permasalahan utamanya adalah karena jumlah kendaraan bermotor yang tidak dapat dikontrol hingga sesuai dengan daya tampung dan kualitas jalan yang sudah ada. Ditambah lagi transportasi angkutan umum yang belum memadai dan terintegrasi ke seluruh penjuru ibukota.
Selain itu, Pemprov DKI juga melupakan bahwa kesadaran tertib berlalu lintas masyarakat masih sangat rendah. Namun, belum tampak ada upaya yang maksimal untuk menyadarkan masyarakat bahwa lalu lintas dan angkutan jalan adalah tanggungjawab bersama.
macet demo
“ Penyebab utama kemacetan karena jumlah kendaraan yang sudah jauh dari kemampuan daya tampung ruas jalan, ditambah lagi transportasi angkutan umum yang belum memenuhi harapan. Tetapi kita belum melihat ada niat pemerintah untuk mengendalikan jumlah kendaraan dengan melakukan moratorium,”ujar Edison.
Dikatakan, sejatinya UU No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan mengamanatkan bahwa  lalu lintas dan angkutan jalan memiliki peran strategis pada semua aktivitas termasuk pembangunan dan perekonomian serta menjaga integrasi nasional. Bahkan, lalu lintas adalah urat nadi kehidupan manusia, cermin budaya dan potret modrenitas sebuah bangsa.
Tetapi, pihaknya yakin, amanat UU itu akan semakin jauh dari harapan, apabila Pemprov DKI tetap menggunakan pola dengan mengedepankan hanya pembangunan ruas jalan. Justru bahkan mengundang kecurigaan ada apa dibalik “ngototnya” pembangunan jalan yang menelan biaya sangat besar. Padahal, Ibukota Jakarta sudah memiliki ruas jalan yang memadai, jika dijaga dengan keseimbangan jumlah kendaraan, maka Jakarta tidak lagi dihantui kemacetan seperti saat ini.
“Mengendalikan jumlah kendaraan, selain tidak membutuhkan dana besar, juga tidak merusak lingkungan dan menimbulkan permasalahan baru bagi masyarakat karena terkena gusuran,” ungkap Edison.
Lebih baik, Edison menyarankan, pemerintah lebih fokus pada daerah luar pulau Jawa yang masih sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana jalan. Dia juga ingatkan, pemerintah jangan tutup mata, bahwa sarana prasarana jalan di sejumlah daerah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua masih memprihatinkan.
Anda setuju?(tri)
Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Jalan jakarta dan tag , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Kesadaran Berlalu Lintas dan Pengendalian Jumlah Kendaraan adalah Kunci Mengatasi Kemacetan Ibukota

  1. percetakanexpres berkata:

    Post yang bagus

  2. blognyamitra berkata:

    Saiki ngesot nang koridor 1 wis ora penak cak, gak koyo mbiyen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s