Komunikasi-Komunitas


Komunikasi timbal balik, dilakukan secara intens dan berkesinambungan oleh beberapa individu karena adanya persamaan di antara mereka, maka munculah komunitas. Misal karena persamaan nasib, buruh berkumpul, berkomunikasi, menyatukan tekad dari pendapat yang ada dan jadilah komunitas buruh atau serikat buruh. Karena kesamaan kendaraan, baik sepeda onthel maupun kendaraan bermotor juga kerap memunculkan suatu komunitas. Termasuk demi memudahkan mendapat spare part atau onderdil produk yang sudah discontinue, seorang pemilik produk tersebut harus masuk komunitas sehingga komunikasi mengenai onderdil yang dibutuhkan lebih mudah.

komunikasi

Yah, komunitas berdiri karena persamaan-persamaan dari beberapa individu yang terjalin oleh komunikasi. Menurut Ustad Syamsul Bachri dalam kajian rutin Selasa malam minggu ke-2 di Masjid Baiturrahman Ancol, komunikasi terjalin karena beberapa hal, antara lain :

  • Kultur : yaitu kesamaan suku atau ras, misal ada komunitas masyarakat Banyumas di Jabodetabek
  • Budaya dan Agama : Kesamaan budaya, misal seniman, contohnya paguyuban Jaran Kepang. Kesamaan Agama, misal ICMI
  • Profesi yang dijalani : misal PGRI, koperasi karyawan
  • Ideologi yang dianut
  • Sistem dan norma yang berlaku
  • Kelas soisal
  • dll

Dari contoh di atas makin jelas bahwa komunikasi yang baik mampu menghasilkan komunitas yang bersinergi dan saling menguntungkan. Begitupun dalam bermasyarakat, hendaknya terjalin komunikasi yang akrab sesama anggota masyarakat.

لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ .يَعْنِى أَمْرَأَةً تُؤْذِىْ جِيْرَا نَهَا بِى لِسَانِ

“Tidak ada kebaikan dalam dirinya. Ia adalah penghuni neraka. Yakni wanita yang menyakiti tetangganya dengan lidahnya.”

Hadits ini ditakhrij oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (nomor 119), Ibnu Hibban (2054), Al-Hakim (4/166), Ahmad (2/440) dan Abubakar Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mu’addil dalam Al-Amali (6/1-2) dari jalur Al-A’masy, dia berkata: “Telah bercerita kepadaku Abu Yahya Maula Ja’udah bin Hubairah, dan dia berkata: “Aku mendengar Abi Hurairah berkata:

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

“Dikatakan kepada Nabi r : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah itu bangun malam dan puasa siang. Dia berbuat baik dan bersedekah, dan dia menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Kemudian Rasulullah r bersabda: “Tidak ada kebaikanpadanya. Dia penghuni neraka. (Abu Hurairah) berkata: “Sedangkan si fulanah itu hanya bershalat wajib dan bersedekah dengan sepiring (bubur merah) dan tidak pernah menyakiti seorang pun juga.” Maka Rasulullah r bersabda: “Dia itu termasuk ahli surga.”  (Imam Bukhari, Shahih Adabul Mufrad-57)

Sahabat Anas ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Janganlah kamu saling menjauhi dan saling memutuskan tali persaudaraan. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang rukun bersatu dan bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari dan Muslim).

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (Ar-Ra’d : 19)

Hal yang penting untuk digarisbawahi dalam berkomunikasi adalah berpikir solusi dan bersikap harpa maklum. Berpikir solusi berarti dalam bermasyarakat hendaknya segala tindakan tidak mengakibatkan jalan buntu yang bisa berakibat seteru dengan tetangga atau teman, tetapi senantiasa memikirkan bahwa tindakan yang diambil jika mengalami kegagalan atau ketidakcocokan maka sudah disiapkan jalan keluyarnya. “Harap maklum” berarti kita harus berbesar hati dalam menghadapi individu lain, jika mereka tidak memahami apa yang kita mau, atau enggan menerima pendapat kita karena prespektif yang berbeda, tidak perlu kita ngotot mempertahankannya, kita ikuti dengan kewaspadaan. Anggap saja mereka belum paham. Bahasa anak gaul “Otaknya belum nyampai”. Semoga kita mampu menjalin komunikasi dengan siapapun, di manapun, tanpa pandang strata dan kelas. Tanpa menyakiti dan tersakiti. Berpikir solutif dan membiasakan sikap “harap maklum”, demi menghindari perselisihan tanpa penyelesaian. Amin (Tri)

————–

cat : Inspirasi tulisan: Ust. Drs. Syamsul Bahri. Kutipan hadits dari Alquran-sunnah.com  dan anangnurcahyoblog . Ayat dari Al Quran online

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Al-Quran dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Komunikasi-Komunitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s