Dibuai Tawa


Tertawa adalah lambang kebahagiaan, tapi tertawa berlebihan bsa  jadi tanda-tanda sakit jiwa. Memang tertawa tidak dilarang, tapi apapun jika berlebihan pasti efeknya jelek. Begitupun tertawa, jika berlebihan bias membuat hati ini mati. Tidak peka terhadap lingkungan, masa bodo dengan masyarakata sekitar, yah layaknya orang gila yang cuek meskipun auratnya terbuka, tetap tertawa meski kelaparan, badan dekil dan bau, kadang menangis tanpa jelas permasalahannya. Apa kita cukup bilang “KASIHAN DIA”

Pelawak, bukan salah pekerjaannya, tapi jika ada pekerjaan yang mampu dilakukan selain melawak kenapa harus melawak. Membuat orang lain bahagia adalah baik, bahkan bias bernilai ibadah, tapi apakah membuat orang tertawa selalu baik ?

Jawabannya relatif. Membuat orang tertawa atau minimal tersenyum disaat duka melanda adalah tugas kita sebagai saudara atau rekan, menghibur agar tidak larut dalam duka, segera menata diri dan kembali menjalani hidup normal. Kita bantu semampu kita. Cukup sampai di situ. Tidak perlu kita menemani dan menceritakan hal-hal yang lucu tiap saat agar dia tertawa dan melupakan dukanya, karena duka juga tidak harus dilupakan sama-sekali, duka sebagai pelajaran, dengan duka kita diharapkan bersyukur atas suka yang kita dapat, dengan duka kita mampu berbuat lebih hati-hati, agar tidak terulang dan mengalami duka yang sama.

Tak perlu pelawak untuk membuat seseorang tertawa, perlu pelawak hanya dalam keadaan tertentu, sekedar hiburan semata, yang tak perlu dikonsumsi setiap saat, tak perlu disuguhkan setiap waktu dan sepertinya kurang layak lawakan dijadikan gantungan hidup (mata pencaharian). Memang tidak diharamkan secara nyata, tapi silahkan pembaca telaah lebih dalam, salami dengan hati yang lapang dan terbuka. Apa kontribusi pelawak bagi penikmatnya selain tersenyum, tertawa. Apakah pelawak mampu membantu menaikan taraf hidup pendengarnya, apakah mampu membangun jati diri pemirsanya, apakah mampu membangun kepribadian bangsa ? Sekali lagi sekedar intermezzo, sekedar tanya, saya tidak anti pelawak, tapi saya juga kurang suka bahkan benci tayangan televise yang isinya lawakan semata tanpa mempertimbangkan efek positif dan negative, sekedar menaikan rating siaran. Sungguh keterlaluan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (HR. At-Tirmizi no. 2227, Ibnu Majah no. 4183, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7435)

Dari Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَجْمِعًا ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” (HR. Al-Bukhari no. 6092 dan Muslim no. 1497)

Belakangan acara televise tidak jauh dari senyum dan tawa, seolah bangsa ini haus akan tawa, dari lawakan oleh artis sederhana (kesannya kurang terpelajar) sampai lawakan oleh para cendekiawan yang katanya sebagai kritik sosial. Tapi kesemuanya hanya mengajak penonton tertawa. Sudah sedemikian berdukakah para pemirsa televise di Indonesia, sehingga acara banyolan begitu digemari. Tentu jika ditelaah lebih jauh dan dalam hal ini seolah disengaja, sebagai program pembodohan umat, agar kepedulian sosial menurun, kepedulian kepada bangsa hilang.

Yang penting bisa tertawa.

Apakah sudah begitu sulit untuk tertawa? Sekali lagi, apakah dengan mampu tertawa setiap saat anda menjadi senang, bahagia ? Padahal dengan membantu meringankan beban bagi  yang membutuhkan bisa membuat bahagia. Apakah ukuran bahagia adalah tertawa? Semoga kita semua terhindar dari hal-hal yang berlebihan, seperti terbahak sampai lupa diri. Amin (Tri)

………………………………………………

 bersambung

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Al-Quran, hadits dan tag , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Dibuai Tawa

  1. apache_black berkata:

    aamiin kang,miris emang lyt acr tv skrg.

  2. Maskur berkata:

    ya tv ne ya negarane, ya presidene

  3. Ping balik: Ditertawakan Layar Kaca | Triyanto Banyumasan Blogs

  4. blognyamitra berkata:

    Yoi cak, tayangan tv akeh sing gak nggenah… lawakan saiki wis ngawur, ngantem toto kromo, trus ditiru karo bocah2…ujung2nya jadi hal biasa padahal itu hal jelek…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s