Jarak tak Terkira


Melanjutkan kisah nyambangi Walet, Ikan dan Sukabumi …Sekitar 14.30 berangkat meninggalkan Kediaman Juragan Sarang walet, pengennya nyobain jalur Cianjur, Cipanas Puncak, tapi takut kejauhan maka memilih jalur keberangkatan. Mendung nampak tebal menggayut di langit Sukabumi, benar saja jelang meninggalkan kota, rintik hujan menyapu debu jalanan. …srottt… Isi hiidung meler ke masker…Aku tetap bertahan tanpa rain coat, tapi semakin jauh rintik semakin tebal dan tidak kunjung berhenti, maka berhenti sejenak di kios pinggir jalan, pesen minum menunggu hujan reda, sekitar 5 menit kemudian hujan pun reda, segera melanjutkan perjalanan… Masker tak kukenakan lagi karena jorok..srott…

Masuk Cibadak hujan kembali deras, segera meminggirkan motor ngiup di bawah ruko dan kenakan rain coat, disnyalir hujan bakal panjang jika ditungguin. Meninggalkan Cibadak yang berslogan “taat pajak” hujan masih mengiringi hingga naik sampai Masjid Nurul Anda, mampir menunaikan Shalat Ashar, hujan belum juga reda, menunggu sesaat lepas Ashar sambil menikmati skoteng yang hangat, ternyata hujan masih terus menghujam bumi. Segera kenakan perlengkapan jalan, pamit sama penjaga sendal dan tukang parkir, lanjut menembus hujan..
Sepanjang jalan kondisi lalu lintas padat merayap sampai Caringin, Lido bahkan masuk Ciawi… Kecepatan motor lebih sering dibwah 10 kpj… Hadehhh… Pegel tangan, semutan menahan grip gas dan handle kopeling, kendaraan besar bercampur angkot dan mobil pribadi memenuhi jalan sampai membuat lobang di kanan kiri jalan yang seharusnya trotoar bagi pejalankaki. Minggir menambah bahan bakar pertamax di Pom Bensin Ciawi, weh.. Prediksi waktu tempuh sampai Jakarta 3 jam tidak mungkin tercapai. Hujan di sini sudah reda, lepas jas hujan, bungkus lanjutkan perjalanan.

Mendekati belokan arah Tajur hujan kembali mendera, kembali minggirin motor, kenakan Jas Hujan, kukebut motor secukupnya, karena bentar lagi Magrib berkumandang, pengenya magrib di Jakarta. Hujan terus mendera, genangan tak kupedulikan, cipratan dari kendaraan lainpun kuabaikan.
Masuk Cimanggis pukul 18:30, merapat di pom bensin yang ada lambang masjid guna menunaikan shalat Magrib (keburu masuk Isya), daleman sepatu basah kuyup, kaos kaki copot tempel di mufler knalpot biar sedikit mengering. Shalat Magrib sekalian Jamak Qashar Isya, prediksi sampai rumah malam dan sudah masuk Isya. Habis shalat mampir mini market di pom bensin tersebut, beli minuman vitamin C dan roti guna menghangatkan perut.

Lipat rain coat, bungkus, kenakan sepatu dan lainnya, lanjutkan perjalanan. Becek jalanan tak kuhiraukan, melintasi jembatan fly over Pasar Rebo berhenti sejenak minum air putih, ambil gambar kesemrawutan malam. Jalanan Jakarta padat merayap, akhirnya jam 20.00 sampai Cengkareng. Beuh…

Jarak yang tak seberapa (kurang lebih 136 km)  ditempuh dalam waktu 5,5 jam… Luar biasa.. Kaya pulang ke Jawa aja… Mungkin lain kali mending lewat Puncak, Cianjur.. Pilek belum sembuh, batuk menyerang.. Istirahat yuk.. Wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Jalan jakarta, jalan nasional dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Jarak tak Terkira

  1. bejo berkata:

    Passe pirang jam

  2. sinbe berkata:

    Dhsinyalir si Pilek nambah betah nempel di hidung.

  3. elsabarto berkata:

    wah matur nuwun sanget mas, pun nyempet-nyempetke waktu ke gubuk kulo, sepisan malih matur nuwun sanget mau silaturahmi ke sukabumi & bawain souvenir pula, nuwun sewu saya malah gak bawain mas Tri oleh2 khas sukabumi.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s