Hujan Petir Petang Ini


Kututup telinga, kami terus melangkah menuruni jalan berbukit itu, berpayung daun pisang menembus kabut yang mulai turun, senjapun mulai menyapa. Simbok dan aku tetap gontai, sementara nini yang sudah sepuh mulai tertinggal. Tapi dengan santai Nini terus mengikuti kami, mulutnya terus bergerak mengunyam sirih, sambil sesekali membuang ludah berwarna merah kecoklatan, paduan kinang (pinang, sirih, kapur dan gambir).

Rintik hujan terus mengiringi, diselingi kilat yang menyambar dahsyat di antara awan yang bergulung putih kelabu, sebentar-bentar kupelototi kilat yang biasa kusebut “lidah” , berkerlip menyilaukan tapi menimbulkan rasa ingin tahu. Kilatnya begitu nyata, tapi petir dan hujan reda, kemana efek kilat itu, bukannya kilat akan diiringi suara geluduk yang bergema di angkasa, apalagi kampungku yang berbukit. Gemanya akan memekakan layaknya nuklir Hiroshima. Sampai sekarang aku belum tahu jawabnya, kenapa kilat yang indah itu tidak menghasilkan petir menggelegar.

Kabut gunung makin pekat menyelimuti alam, menghalang pandangan. Kami percepat langkah dan Nini makin ketinggalan, meski kadang masih kudengar batuk dan suara sendal japit juga suara kentutnya yang seolah hanya ilusi. Nini adalah sosok pekerja keras di masa mudanya, jadi berjalan berkilo-kilo meter dari saudara yang satu ke yang lain tak pernah mengeluh, meski di masa tuanya mudah memarahi cucu-cucunya yang bandel.

Menjelang Isya kamipun masuk rumah atap seng kesayangan, disambut lentera minyak tanah yang suram tapi cukup terang buatku untuk membuka buku bacan dan menelaah isinya. PMP, PSPB dan berbagai menu pelajaran SD yang kutulis di pojok buku kakaku yang kosong, yah buku bekas dengan lembaran-lembaran berisi 3/4 bahkan lebih, milik kakaku, pojokannya akan berisi tulisan pensi HB dengan bekas hapusan yang hampir melubangi pojok lembaran tersebut. Dan guruku tetap memberi nilai akan hasil tulisanku tersebut.

Yah puluhan tahun silam, kejadian itu. Tiba-tiba mengawang indah di pelupuk mata bersama hujan petir petang ini. Nini telah tiada, kakakupun telah menyusulnya. Terimakasih nini, terimakasih kakak, kenanganmu akan jadi semangatku. Takperlu kunelangsa, kuharus tersenyum meskipun hati teriris. Apa kabar Nini pembaca ? Wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di sosial dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Hujan Petir Petang Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s