Terlelap di MRT


Mass Rapid Transit atau akrab disapa MRT, adalah moda transportasi masal baru kebanggan ibukota, DKI Jakarta. Meski sudah cukup lama dilauncing euvorianya masih terasa sampai saat ini. Transportasi masal yang tidak jauh beda dengan Kereta Listrik Commuter Line ini baru memiliki satu jalur lintas perjalanan yang beroperasi, yaitu Selatan – Utara , tepatnya Lebak Bulus menuju Hotel Indonesia (HI) dan sebaliknya, denagn 13 stasiun aktif. Sedang jalur lintas Barat – Timur masih uji kelayakan.

Saya baru sekali mencoba Mass Transportation ini, dari HI menuju Fatmawati dan sebaliknya. Jika anda turun Bus Transjakarta di Shelter HI, bisa langsung turun ke dalam stasiun MRT HI yang berada under ground. Udara agak hangat, tapi mendekati Stasiun, hawa AC yang sejuk menyeruak, apalagi setelah memasuki gerbong.

Oh iya, ticket yang dipakai adalah sama dengan ticket Transjakarta atau Busway atau Etoll , ada juga ticket harian layaknya commuter line bagi yang sekedar nyicipin. Jadi saat ini, 1 ticket atau kartu bisa untuk semua moda trasportasi masal mulai dari Commuter Line/KRL, Transjakarta/Busway dan MRT.

Suasana dalam gerbong bersih dan rapi dengan penataan bangku layaknya Bus Transjakarta, juga pegangan bagi penumpang yang berdiri. Saat saya naik, pengguna MRT tidak banyak sehingga tersedia banyak tempat duduk.

Kondisi badan yang lelah habis begadang diiringi udara sejuk dan susasana lengang, yah cukup lengang, suara roda besi yang beradu dengan rel cukup teredam, kedap suara hampir sempurna, sehingga kuping saya terjaga dari polusi suara, tanpa terasa mata ini meredup dan lupa sekitar. Padahal saya berniat melihat, kapan dan di mana kereta MRT ini keluar dari dalam tanah dan berpindah ke rel layang. Ternyata saya tersadar dengan MRT sudah merambat di sekitar gedung-gedung pencakar langit Jakarta, dan tak lama Stasiun Fatmawati nampak di mana saya harus turun menuju Rumah Sakit Fenomenal Jakarta tersebut. Urusan Keluarga, mendonorkan darah kepada isteri rekan saya di sana. Dan dengan ini saya menyampaiakn berbela sungkawa kepada Om Roso, krn beberpa hari setelah saya donor, ternyata istri beliau berpulang . Innalillah

Sepulangnya dari Fatamawati, saya kembali menaiki tangga stasiun MRT Fatmawati, yah, bisa dibilang ini bertolak belakang dengan stasiun HI. Di stasiun HI, kita harus naik dan turun tangga dari dalam bumi , sedang di Fatmawati, Stasiun MRT berada di ketingigian gedung lantai 5 barangkali.

Dan sekali lagi saya gagal melihat kapan dan di mana kereta MRT masuk ke dalam bumi, karena saya kembali terlelap dan tersadar sudah berada dalam under ground.

—————–

Posted at Kedung Gedeh, di atas KA Lokal Cilamaya express, 21.02 WIB paska disalip KA jarak jauh

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di transportasi, transportasi publik dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s