Prestasi Polisi Yang Selalu Dikenang Masyarakat


image

Ilustrasi (foto: jabar.pojoksatu.id)

Long week end. Ada yang liburan? Kalo saya tetap nguli. Nah tadi pas riding menuju tempat gawe, ternyata banyak pemotor keluarga yang nampaknya mau liburan. Dan apesnya, ada razia polantas. Beberapa pengendara sepeda motor dihentikan untuk cek kelengkapan berkendara.
Dari gelagat antara polantas dan riset sepeda motor, nampaknya ada pelanggaran kelengkapan berkendara. Entah STNK, BPKB, helm atau mungkin lupa menyalakan lampu utama sepeda motor.

Bagaimana rasanya, mau liburan, mau senang-senang, malah mikirin sidang tilang oleh polantas. Kecuali bisa damai di tempat atau istilahnya nitip sidang. Yaqin, sepanjang sisa perjalanan, bahkan mungkin di tempat rekreasi, sang rider mikir keras, uang melayang yang sebenarnya dialokasikan buat jajan anak atau mikirin alamat gedung pengadilan.

Yah, ini adalah prestasi polisi yang akan selalu dikenang oleh masyarakat. Prestasi menindak pelanggar lalu lintas. Prestasi yang menduduki urutan pertama dari berbagai prestasi yang diraih polri.

Prestasi polisi berikutnya yang akan membekas dalam ingatan masyarakat adalah menangkap dan membunuh terduga teroris. Prestasi terakhir dari point ini adalah berhasil menangkap Siyono (Allohuyarham) dan membunuhnya. Seorang guru ngaji dari Solo. Ditangkap dan diduga disiksa hingga sang guru wafat dengan berbagai luka memar, babak belur. Hasil otopsi oleh tim Muhammadiyah mengungkap fakta prestasi polisi melalui tangan Densus 88.

image

Foto: pinterest

Begitulah, keburukan atau hal negatif akan selalu dikenang oleh orang lain, sulit menutupi dengan perbuatan baik. Ibarat pepatah, tinta setitik rusak susu sebelanga. Prestasi polisi mungkin banyak yang baik, tapi tertutupi oleh hal-hal mencolok yang dianggap negatif oleh masyarakat umum.

Kegagalan pemerintah dalam menegakan keadilan bagi pelaku korupsi juga dibebankan ke polisi. Makin lengkap saja, masyarakat menyandingkan antara polisi menangkap pelanggar lalin dan menangkap koruptor. Menjudge, bahwa polisi hanya mampu menangkap rakyat kecil, tapi tunduk pada pelanggar yang berasal dari kalangan masyarakat besar. Koruptor tetap tersenyum ceria. Itulah yang membuat masyarakat jengah kepada penegak hukum di negeri ini.

Polri harus berbenah. Independen dalam menegakan keadilan. Kasus Siyono jelas mencoreng muka Polri. Kecerobohan Densus 88 yang berulang salah tangkap tanpa klarifikasi membuat muak masyarakat. Khususnya kaum muslimin.
Meski banyak orang Islam di negeri ini yang enggan berkomentar. Memilih diam. Takut bersikap.
Semoga tidak hanya Muhammadiyah yang berani membongkar kebusukan kasus Siyono. Tapi dari semua unsur masyarakat muslim Indonesia.(tri)

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di politik dan tag , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Prestasi Polisi Yang Selalu Dikenang Masyarakat

  1. orong-orong berkata:

    betul, masyarakatlah yang bisa menilai kinerja kepolisian dilapangan
    https://orongorong.com/2016/04/16/impresi-riding-bersama-yamaha-xabre/

  2. fari.fairis berkata:

    masalahnya media (terutama tv) dikuasai orang2 kafir atau muslim tapi kafir..
    jadi berita2 sperti kasus Siyono gak bakal muncul di tv..

  3. Ping balik: Operasi Patuh Jaya, Ganti Bohlam SkyDrive (lagi) | Triyanto Banyumasan Blog's

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s