Memori Penataran P4, Luruhnya Butir-Butir Pancasila


Kabar kegembiraan hari kemenangan Idul Fitri 1 Syawal 1436 H ternodai oleh banyak berita lain, mulai dari kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di jalur mudik jelang lebaran dan yang cukup panas adalah kobaran api di Tragedi Tolikara, Papua, tepat dalam pelaksanaan shalat ied. Seolah lupa adanya butir – butir Pancasila, sila pertama. Cukup. Saya tidak berkompeten untuk membahas kedua berita tersebut.

national_emblem_of_indonesia_garuda_pancasila-svgApakah pembaca pernah mengalami dan mengikuti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) saat masuk sekolah dulu? Atau di tempat lain barangkali? Dulu ada pelajaran Pendidikan Moral Pancasila yang selanjutnya diganti PPKN Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, lalu penataran P4 ditiadakan.

Ada yang ingat dengan istilah Ekaprasetya Pancakarsa? Itulah istilah lain dari PPPP/P4 yang dicanangkan sejak tahun 1978. Sejak tahun 1978 pemerintah menyelenggarakan penataran P4 secara menyeluruh pada semua lapisan masyarakat. Penataran P4 ini bertujuan membentuk pemahaman yang sama mengenai demokrasi Pancasila, sehingga dengan adanya pemahaman yang sama terhadap Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 diharapkan persatuan dan kesatuan nasional akan terbentuk dan terpelihara. Tentu terlepas dari kepentingan terselubung yang mungkin saja ada saat itu. Tapi menurut pandangan awam saya, masyarakat kala itu lebih tertib, rapi dan damai. Bukan berarti saya merindukan kembalinya era orde baru. Hanya saja, andaikan era kebebasan berpendapat tidak salah kaprah seperti saat ini, barangkali berita-berita yang terpublish bisa lebih bijak dan tidak menimbulkan perpecahan umat, baik inter maupun antar.

Apakah perlu ditetapkan tentang JURNALISME PANCASILA seperti era orde baru? Sehingga segenap pers terbelenggu dan tidak seenak udele dewe (sambil nunjuk jidat sendiri) dan mudah menimbulkan profokasi dan saling hasut. Barangkali perlu dibentuk tim khusus yang independen, guna memfilter isi berita dan pemberitaan, baik online, cetak maupun media yang lain. Andaikan terlaksana, mudah-mudahan menjadi jalan terbaik, disesuaikan dengan semangat reformasi tentunya. Reformasi yang tepat guna, bukan reformasi kebablasan yang mengakibatkan banyak ludah berterbangan.

Oh iya, berikut 45 Butir-butir Pedoman Pengamalan Pancasila Terbaru berdasar Tap MPR no. I/MPR/2003 (sumber wikipedia indonesia) :

Sila pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa

  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sila kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradab

  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Sila ketiga : Persatuan Indonesia

  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaran / perwakilan

  1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Sila kelima : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

  1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  9. Suka bekerja keras.
  10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Bukan sebagai sandaran hukum semata dan satu-satunya, tapi juga sebagai cermin, benarkah nurani kita sesuai agama dan keyakinan yang kita anut? Atau sekedar mengikuti emosi yang tertutup ambisi menguasai. Apakah Pancasila sudah luntur di bumi pertiwi  dan dipertahankan hanya sebagai pematut suatu negara?(tri)

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di sosial dan tag , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Memori Penataran P4, Luruhnya Butir-Butir Pancasila

  1. agoey berkata:

    Saat ini media benar2 bebas.. Bebas tak terkontrol… Sudah sewajarnya untuk kembali mengontrol media agar tidak seenaknya memberitakan informasi yg bisa memecah belah persatuan…

  2. kang uyud berkata:

    Assalamualaykum, semua itu harus adil dalam artian menempatkan sesuatu pada tempatnya…. contoh dalam memberi kepada anak tk, sd, smp dan sma apalagi kuliahan yo pasti beda…misale ada orang protes kok anak tk cuman di kasih permen dan anak kuliahan dikasih motor, dia bilang melanggar HAM…piye iki. jadi apabila sesuatu itu lebih banyak mudhorotnya ya jangan dikasih kebebasan berlebih…walloohu a’ lam bishowaab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s