Sawunggalih Utama dan Stasiun Pasar Senen


image

Jelang Ramadan 1436 H ini sengaja saya mudik untuk sungkem sama simbok (saya memanggil ibu dengan kata ‘MBOKÉ’ ). Sehari sebelum Ramadan, tepatnya Kamis 17 Juni dini hari saya sampai di kediaman simbok.

image

Berangkat dari Pasar Senen menumpang Kereta Api Sawunggalih Malam atau Sawunggalih Utama, kelas bisnis. Bagi saya, kelas bisnis sudah cukup memadai, begitupun harganya yang lumayan menguras isi dompet. Dengan banderol tiket 180 ribu, tinggal dikalikan jumlah keluarga.

image

Fasilitas ac split 6 unit 1 gerbong cukup bikin badan menggigil, bahkan beberapa penumpang masih protes kedinginan dan minta dinaikan suhunya, padahal oleh petugas, suhu ac untuk malam hari sudah disesuaikan.
Stop kontak listrik 2 lobang juga tersedia di tiap tempat duduk. Tentu stop kontak versi nasional, sehingga seorang penumpang dari manca negara (nampaknya turis Taiwan) yang membawa carger gadget kerepotan karena stik stecker cargernya masih menganut versi Amerika.
Tepat pukul 18.00 kereta mulai laju, oh iya, gerbang untuk kereta di stasiun pasar senen dibuka 1 jam sebelum jadwal pemberangkatan, saya sempat menunggu sekira 30 menit di halaman setasiun, sampai ada panggilan masuk, di samping turnstail juga dipampang tulisan nama kereta. Mempermudah penumpang mengenali gerbang yang harus dimasuki, maklum ada beberapa pintu peron sesuai nama dan jadwal kereta. Saya sempet bingung dengan kondisi stasiun Pasar Senen saat ini. Nampak rapi dan asing, karena terakhir ke stasiun Pasar Senen, sekira 3 atau 4 tahun silam masih nampak berantakan, terkesan kumuh. Apalagi kali ini saya datang dari Bekasi numpang KRL Commuter Line.

image

Ya, pemberangkatan kereta api ke Purwokerto ( dan kota lain di timur Jakarta) memang disentralkan di stasiun Pasar Senen untuk kelas ekonomi ( beberapa kelas bisnis yang satu rangkaian/gandeng dengan eksekutif cmiiw) dan stasiun Gambir untuk kereta api kelas eksekutif dan bisnis). Hal ini cukup merepotkan bagi warga satelit Jakarta, karena jarak tempuh yang lumayan jauh. Berbeda jika arah sebaliknya, kereta dari jawa (sebutan untuk kereta dari propinsi timur Jakarta, Jateng, Yogya dan Jatim) biasanya berhenti di beberapa stasiun sebelum Jakarta Pasar Senen, seperti Karawang, Bekasi dan Jatinegara.

image

Interior Sawunggalih utama

Oleh karenanya, bagi penumpang dari Bekasi sepwrti saya, harus cermat menghitung waktu. Transportasi umum paling mangkus saat ini untuk menuju Pasar Senen dari Bekasi adalah KRL Commuter Line. Sedangkan jadwal Commuter Line saat ini susah ditebak, kerap molor karena gangguan sinyal atau apalah. Yang pasti, persiapkan waktu lebih, jika menggunakan Commuter Line Jabodetabek, ke manapun anda menuju. Apalagi kami sekeluarga harus transit di Jatinegara berganti KRL (KRL dari Bekasi tidak lewat Pasar Senen)

Naik KRL turun Stasiun Senen juga baru pernah saya alami, sehingga sempat bingung karena terbiasa turun di stasiun transit seperti Jatinegara, Kampung Bandan, Duri JakartaKota/Beos dan Manggarai, juga di beberapa stasiun lain, di mana kita tidak perlu keluar stasiun untuk berpindah jalur. Saya baru ingat, bahwa KRL arah sebalaiknya (menuju Jatinegara) tidak berhenti di stasiun Pasar Senen ini, sehingga tidak disediakan jalur peron langsung dari arah Jatinegara.
Penumpang harus keluar peron melewati underpass yang cukup ramai (waspada tangan jahil) dan rapi hingga keluar turnstail.

Overall Sawunggalih utama atau Sawunggalih Malam kelas bisnis cukup memuaskan, jadwal pemberangkatan dan tiba di tujuan tepat waktu, jelang tengah malam kami sudah naik taxi gelap (taxi dengan plat nopol hitam) dari Stasiun Purwokerto menuju kampung halaman saya di perbukitan selatan Banyumas.

Diketik saat perjalanan balik menuju Bekasi di dalam kereta api Gaya Baru Malam Selatan.(tri)

—————————-
Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di transportasi publik dan tag , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Sawunggalih Utama dan Stasiun Pasar Senen

  1. awas berkata:

    mohon maaf lahir batin pak.. selamat berpuasa

  2. goozir berkata:

    bada ra balik kang…

    ana kanca sing mudik tanggal 11 ra sing motoran. sing banyumas. bareng koh

  3. kasamago berkata:

    Mudike nggasiki ya..

  4. Ping balik: Pintu ‘Njeblag’ KA Gaya Baru Malam Selatan | Triyanto Banyumasan Blog's

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s