Budidaya Sayur Kailan Versi Saya


image

Melanjutkan kisah bercocok tanam di rumah yang tidak memiliki kebun, jangankan kebun, halaman saja tidak punya 🙂 . Saya memakai area balkon tempat menjemur baju, menggunakan pot tanaman seadanya dan media tanam yang beli di penjual tanaman pinggir jalan, kalo tidak salah 1 karung kecil ukuran 10Kg seharga 15 ribu (kalo beratnya tidak sampai 10kg, cuma karungnya aja yg nampak besar).

Pada tulisan sebelumnya () saya menyinggung tentang menanam sayur Kailan.

image

Pada umunya Kailan ditanam dari biji, menjadi bibit di persemaian kemudian dipindahkan ke lahan yang sudah disiapkan. Kalo saya nemu cara membudidaya tanpa sengaja, yaitu dengan menanam batang dan dahan baru yang tumbuh dari pohon yang saya petik/pangkas dengan menyisakan beberapa pangkal daun.
Jadi kisahnya begini. Sebelumnya saya punya beberapa bibit Kailan yang saya bawa dari Learning Ecofarm, Ocean Ecopark. Kelamaan bibit ini tumbuh, meski tidak semua, hanya 3 pohon. Saat layak panen, dimana Kailan dipanen dengan cara mencabut keseluruhan pohon dari tanah, termasuk akar-akarnya, saya tidak memanennya, karena cuma 3 pohon, buat apa? Saya biarkan sampai tinggi dengan maksud menunggu kembang dan buah, saya pikir akan menghasilkan biji nantinya (adenium mini saya sampai berbuah dan bijinya saya semai) seperti adenium dan akan saya jadikan bibit baru. Ternyata dugaan saya salah, karena Kailan tumbuh makin tinggi tapi tidak juga muncul bunga atau biji yang diharapkan. Akhirnya pohon Kailan ini saya potong menyisakan pokok pohon dengan beberapa daun dan inilah panen Kailan pertama yang dijadikan campuran masakan Cumi asem manis sama isteri saya 😀 meski cuma 3 pucuk tetap aja saya bilang panen.
Tidak disangka, sisa pokok yang masih tertanam ternyata tetap hidup dan tumbuh dahan di tiap pangkal daun atau ruas batang. Beberapa kali dahan baru ini tumbuh dan layak panen untuk sekedar campuran mi instan atau campuran sayur lainnya.

bibit batang tumbuh, bibit  batang ditanam dan hasil bibit batang siap pangkas

bibit batang tumbuh, bibit batang ditanam dan hasil bibit batang siap pangkas

Kelamaan dahan baru mengecil dan banyak. Tersisa satu dahan besar yang sengaja saya biarkan, ternyata patah dari pokok batang utama, mungkin keberatan daun. Iseng saya tancapkan di tanah dalam pot sekedarnya. Saya pikir mati, karena daun layu, saya coba siram tiap malam hari, dan ternyata dahan ini tumbuh subur sampai saya panen bersama teman dahan lain yang dulu hidup sepohon. Dan lagi-lagi sisa pokok pohon ini tumbuh dahan baru dari ruas pangkal daun yang tersisa. Akhirnya saya petik dan tanam menumpang pada pot tanaman lainnya serta menanam pada satu pot dengan beberap bibit, karena jumlah pot dan media tanam terbatas.

image

Nah bagi pembaca yang suka sayur hijau kaya akan zat besi, kailan bisa jadi selingan, karena sawi dan bayam kadang membosankan. Sementara pakcoy agak jarang yang jual. Sekian dulu lain kali disambung kisah tumbuhnya si Kailan yang mulai tumbuh dan siap pangkas.(tri)

 

—————————-
Posted from WordPress for Android Wonder Roti Jahe

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di flora & fauna dan tag , , , . Tandai permalink.

9 Balasan ke Budidaya Sayur Kailan Versi Saya

  1. PotretBikers berkata:

    Wenak nich…. 😀 segerrr 😉

    ————–
    Menikmati Nasi Jagung Pecel, di Pintu masuk Pantai Rajegwesi – B. Wangi – http://wp.me/p5HivY-Rr

  2. Saya pernah nanam sawi dan brokoli, yg nikmati hasil malah ulat-ulat, jadi patah arang pengen nanam lg. Sudah 2 mingguan saya coba nanam sayuran ala hidroponik 🙂 .

  3. kmphlynx berkata:

    Ayo nandur semangka… ^_^

  4. Ping balik: Kailan Kurus dan Nanas Mandul | Triyanto Banyumasan Blog's

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s