Jumowo, Sepeda Motorku Terjang Banjir


image

Tidak bermaksud jumawa, tapi tak adanjalan lain, ini paling cetek

Jumowo atau jumawa dalam dialek Banyumasan artinya sombong atau angkuh. Di Banyumas (lebih akrab di sebut basa ngapak) banyak kata dengan arti sama yang dipakai dalam keseharian, misal gumede dan kemaki. Gumede dalam bahasa Indonesia berarti besar kepala, sedang kemaki berarti merasa mampu (penitikberatan pada ter/paling). Sedang pengucapan Jumowo adalah dialek jawa tengah bagian timur (penulisan tetap pakai “a”, jumawa) sampai jawa timur. Bagi warga Banyumas menyebutnya dialek bandek (kata “e” dalam bandek layaknya mengucap kata unggas bebek).

Di banyumas pengucapan jumawa biasanya dalam tingkat bahasa ketiga ke atas. Lho kok ada tingkat bahasa kang? Tingkat bahasa yang dimaksud di sini (berlaku juga di semua etnis Jawa) adalah perbedaan dalam mengobrol tergantung situasi dan kondisi. Untuk obrolan antar teman biasanya memakai tingkat bahasa terendah yang disebut “NGOKO” , selanjutnya dengan orang yang lebih tua, misal adik ke kakaknya menggunakan bahasa “NGOKO ALUS”, berikutnya dengan orang tua menggunakan “KROMO” atau “KROMO ALUS” dan level tertinggi adalah “KROMO INGGIL”. Selengkapnya silahkan googling.
—————————–

image

Memori si tagor

8 Februari 2008. Gerimis mulai melunturkan debu di atas muka bumi. Langit seolah menitikan air duka karena ulah tangan-tangan penghuni dunia. Jelang waktu Asyar saya pulang kerja mengendarai sepeda motor beriringan dengan seorang rekan. Saya mengendarai Honda Tiger Revo langsiran 2007 dan rekan saya mengendarai Suzuki Smash. Ada kabar tanggul Pluit Jebol, dan sebagian Jakarta Utara terendam banjir.
Belum genap 1 kilometer roda kuda besi menapaki aspal Jakarta, kami dihadang genangan banjir yang cukup dalam. Tidak ada pilihan kecuali menerobos genangan tersebut. Rekan saya berusaha mencari jalan dengan genangan dangkal, saya tetap melaju mengikuti jalur yang biasanya. Saya yakin ketinggian sepeda motor serta umur yang terbilang baru, akan mampu melewati genangan tersebut. Lagian kadung basah, mandi sekalian, pikirku.
Dengan penuh kehati-hatian, saya atur posisi berkendara, tarikan throtle gas dan menahan handle kopeling sesekali, agar mesin motor tetap hidup, dan knalpot tetap membuang jika air masuk. Kedalaman mencapai bawah jok motor, Tiger masih mengaum, bahkan saat berpapasan dengan truk yang menimbulkan gelombang air mencapai tangki hingga setang, motorku masih laju meski oleng oleh gelombang buatan truk tadi.
Cukup kerepotan saya mengendalikan sepeda motor karena kadang menemui jalan yang lebih rendah yang berarti genangan lebih dalam hingga cukup lama jok Tiger terendam setengah. Sampai akhirnya, si Tiger tak mampu lagi melangkah, slip kopeling. Mesin mengaum tapi tak laju. Akhirnya dorong ke bengkel terdekat.
Setelah di cek, ternyata air masuk ke filter udara karburator. Posisi lobang udara tepat di bawah jok rider. Bisa jadi air masuk saat terkena gelombang air truk, atau setelahnya dimana si Tiger terendam sampai jok. Slip kopeling bisa diatasi tapi kerusakan berikutnya menanti. Sepeda motor memang bisa kembali dikendarai tapi tidak nyaman lagi. Hari berikutnya, si Tiger bermalam di AHAS.

image

Foto dan komentar seorang rider pulsar 200NS

Semenjak itu, saya tidak mau gumede lagi. Sepeda motor memang diperuntukan buat jalan darat, kalo sesekali terpaksa menerjang banjir, ukur kemampuan dulu. Kemampuan pengendara dan juga kendaraannya. “Aja kemaki!, aja jumawa!” kritik nurani pada nafsuku.
Apakah kendaraan pembaca pernah menerjang banjir?(tri)

————————————–
Posted from WordPress for Android P6200 retak

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di banyumasan. Tandai permalink.

33 Balasan ke Jumowo, Sepeda Motorku Terjang Banjir

  1. Bapak'e Salma berkata:

    keren

  2. sijidewe berkata:

    Nek sepeda motorku bukan kendraan amphibi

  3. Diposedicigp8 berkata:

    Sing numpak p200ns kok akeh2e do kemaki. Yen rusak langsung ngeluh 😆

  4. Diposedicigp8 berkata:

    Sing numpak p200ns kok akeh2e do kemaki. Yen rusak langsung ngeluh 😆

  5. dany :) berkata:

    ooo…ngono to oke oke oke hahah… 😆 .durung ngrasakke ngompres banyu campur geni busi sajak e

  6. awakku berkata:

    BEngi iki udan deres manehhhh….

    timbang nerabas banjir.. mending puter balik, gak sido kerjo, ngeloni bojo…asooiiii……….. angak hoo

  7. mampir berkata:

    p135 ane nerjang banjir setangki. lebih dalem dari p200ns yg di gambar di atas. motor mati kok, wong filternya kelelep. dorong dikit ketempat kering, buka lubang kencing karbu, sela sekali dua kali ngreeeng lagi. ga perlu rawat inap. hehe

    nyampe rumah intip lubang jendela oli, ga keputihan yg berarti oli ga masuk ke mesin, amaan.
    buka filter udara, busanya basah (aneh, busa filter basah tp mesin bisa dinyalain) berwarna item, bau comberan. wkwkwk

    • Iya kuncinya ada di lobang filter udara. Kalao masih setara jok, masih aman, apalagi kondisi jalan, kalo berhenti kena ombak dikit, air bisa nerobos masuk lobang udara tsb. Mesin mati krn tdk ada udara sbg pencampur bahan bakar di ruang bakar. Imho

  8. Ping balik: Lomba Jumlah Tanpa Nilai | Triyanto Banyumasan Blogs

  9. kasamago berkata:

    benr,di buku manualny blm ad panduan nerjang banjir..

  10. Ping balik: Banjir, Macet dan Kelistrikan Kendaraan | Triyanto Banyumasan Blogs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s