Bersepeda, Tidak Sekedar Nggowez


tampang petani tempo doeloe

tampang petani tempo doeloe

Sepeda, beberapa orang menyebutnya dengan tambahan kata ontel atau pancal untuk membedakan dengan penyebutan sepeda motor. Bagi saya yang nguli di kebon (taman), bersepeda merupakan keseharian karena tidak diperbolehkan kendaraan bermotor untuk lalu lalang. Jarang sekali saya bersepeda di jalan raya dengan berbagai pengguna jalan lain, meskipun kerap di ajak bersepeda ke Monas atau Senayan oleh kawan pada hari Minggu. Karena keterbatasan waktu yang memang tidak memungkinkan, saya tidak bisa memenuhi ajakan tersebut.

Di Jakarta, hari Minggu merupakan surga bagi pesepeda Ibukota. Adanya car freeday di beberapa ruas jalan ibukota, meski tidak berlaku sepanjang hari, paling tidak warga yang demen nggowes bisa leluasa memacu sepedanya tanpa perlu bersaing dengan kendaraan bermotor.
Karena tidak mungkin semua jalan diberlakukan car free day, menyebabkan akses ke jalan yang diberlakukan, pesepeda harus berbarengan dengan pengguna jalan lain. Hal ini mewajibkan pesepeda dan pengguna jalan lainnya harus ekstra waspada. Pesepeda tidak semuanya mahir mengendalikan keseimbangan laju sepeda, kadang mereka sekedar mampu mengayuh tanpa jatuh, alias asal nggowes.

bmx.jpg

freestyle BMX

Seperti di hari Minggu yang lalu, saat sedang bersepeda motor, nampak di depan saya seorang ibu mengayuh sepeda mini (sepeda lipat) membonceng anaknya. Di perempatan sebuah mobil (berhenti) bersiap seolah mau memotong laju si sepeda dan saya, saya waspada terhadap hal tersebut, tidak disangka sepeda tiba-tiba oleng ke kanan tepat di arah laju sepeda motorku, reflek saya membanting setur menghindar sambik teriak. Hampir saja si sepeda ketabrak oleh saya. Kaget bukan kepalang, deg-degan bercampur marah spontan. Terbayang si anak yang dibonceng mental ke aspal dan ahh… Mengerikan. Alhamdulillah, Allah masih melindungi kami.
Barangkali si ibu menyangka mobil dari arah memotong tadi hendak melaju, membuatnya kaget dan kehilangan keseimbangan.
Dari kejadin tersebut dapat disimpulkan, pengguna sepeda pada masa kini, khususnya di ibukota, sebagian hanya mengikuti tren. Barangkali pada masa kecilnya memang mahir bersepeda, tapi seiring waktu karena jarangnya menggunakan sepedanya, kemampuan bersepeda berkurang jauh.
Berbeda dengan petani pengguna sepeda kumbang di kampung, yang keseharian bersepeda sampai berumur, sambil memanggul cangkul, mengangkut padi, rumput, kayu bakar dan sebagainya. Di ibukota kemahiran semacam itu bisa terlihat pada pengojek sepeda. Menggunakan sepeda kumbang, jangkung tanpa gigi percepatan layaknya sepeda modern, mereka tetap mampu menjaga keseimbangan menembus kemacetan jalanan Jakarta. Menggowes mengais rupiah.
Kapan terakhir pembaca nggowes sepeda? (Tri)

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di sepeda dan tag , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Bersepeda, Tidak Sekedar Nggowez

  1. touringrider berkata:

    Ngontel… mancal kemul

  2. Maskur berkata:

    sepeda di jalan raya = tidak dihargai = tidak dianggap = hama = pengganggu. dsb

  3. kasamago berkata:

    lama g nggowes, sx abis g nggowes kaki langsung kram.. napak rasanya ngambang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s