Walet, Ikan dan Sukabumi


Rabu Pagi bangun jam 05.15 padahal niatnya bangun sebelum waktu subuh, karena mau berangkat pagi-pagi nyambangi kediaman Kang Elsa Barto di Sukabumi. Segera konfirmasi Kang Sapto.. Beruntung belum ditinggal…segera aja prepare.. Pilek gak jadi penghalang…srootttt.. Bentar-bentar isi hidung meler..hadehhh. Setelah menenggak susu coklat hangat, pukul 06.00 meluncur menuju jembatan Fly over Pasar Rebo sebagai tikum dengan Kang Sapto. Daan Mogot sudah rame dan semrawut, beberapa kendaraan melintas di jalur Busway, hal biasa karena tidak ada petugas yang jaga, disiplin cuma jika diawasi, yah… Mental sebagian bangsa ini, bahkan meski ada KPK toh korupsi tetap jalan, pengawas mungkin cuma lipstik, penghibur para demonstran..

Berputar fly over Grogol, S Parman, peremptan Cililitan, Kramat Jati baru berbenah, sisa sayur masih berserakan, tapi Alhamdulillah, jalur yang sering jadi momok macet, pagi itu berhasil kulintasi tanpa banyak halangan sampai menanjak Fly over Pasar Rebo, mengendorkan tarikan grip gas berharap Kang Sapto sudah menunggu, ternyata nihil. Banyak pengendara roda dua berhenti di sini, sekedar menatap pemandangan yang menghampar di bawah, minum sejenak.

Setelah menyetandarkan motor ku ambil ponsel tuk mengabadikan sedikit gambar yang menghampar.

Lewat 10 menit Kang Sapto belum nongol, “apa aku dah ditinggalin neh” pikirku, kutelpon saja, nada dering tanda hp aktif tapi tidak diangkat, mungkin di jalan.Lewat 30 menit akhirnya muncul tampang aparat di sampingku dengan pulsar 180 UG3 ber rear box. Ternyata keterlambatannya karena panggilan alam xixixi :mrgreen: semoga tidak karena sambel

Segera pakai helm dan meluncur menapaki jalan raya Bogor, menuju Ciawi.. Beberapa titik jalan lumayan tersendat, berkelok ke Ciawi menapaki Caringin lanjut Kampung Benda dengan jalanan yang berlubang di kanan kirinya, padahal seharusnya adalah trotoar tempat para pejalan kaki. Sepertinya Kendaraan besar dan angkot yang sering memaksa melintasi pinggiran jalan berhasil menghancurkan hak pejalan kaki. Sepanjang jalan rasa asin menetes di maskerku, hadeh… Srottt…

Sampai masjid Nurul Anda mampir sekedar nyarap lontong (buras) yang dibawa Kang Sapto dari rumah, juga Kang Sapto menunaikan waktu dhuha. Pemandangan belakang masjid mempesona.. Green.. Suwejuk..

 Skitar 20 menit kita melanjutkan perjalanan, menuju Cibadak, selabintana, masuk Kota Sukabumi di beberapa titik, angkot berjajar parah, Kang Sapto hampir menabrak angkot pink yang berhenti secara serampangan, aku yang di belakangnya kelabakan menahan laju motor…hadehhh..sabar Kang.. Jo digebukin.. 😀

Setelah beberapa kali mutar akhirnya jalan masuk juragan Walet nampak, tanpa pemberitahuan langsung salam aja… Pede banget.. Jam mendekati angka 11.30 wuihh.. Lama juga perjalanannya..
Setelah ngobrol mengenai pc dan softwere sesaat..panggilan shalat berkumandang, segera meluncur ke Masjid yang agak ngumpet tapi higienis rapi.. Pulang shalat Dzuhur, dijamu makan siang dengan beraneka lauk (kok lali ra dipoto yo, colek kumbokarno Magetan 😀 ) sambele mak nyozz.. Setelah kenyang Kang Elsa langsung menenteng Gancu buat hunting Cacing… Aseeekkk.. Langsung kusiapkan joran dan rill yang sengaja kubawa dari rumah.. Segera meluncur menuju kolam yang cuma berjarak 20 meteran dari kediaman Kang Elsa,

gancu ditancap ke tanah pinggiran kolam yang gembur dan terdapat “unthuk” cacing, setelah bergantian mencongkel akhirnya dapat seekor cacing yang gemuk bikin Kang Sapto geli..ngeri… Hiiii… 😀 menang tampang aparat takut cacing.. :mrgreen:

 segera kuangkat cacing monster dari tanah, kupotong sedikit buntutnya, kucancang di mata kail, dan lempar tali kail ke kolam…plung… Setelah menunggu 10 menitan kail belum dapet korban, akhirnya kita tinggal dulu untuk mengintip aktifitas little birds, sriti dan walet di sarangnya, 2 rumah dikosongkan oleh Kang Elsa bersebelahan dengan kolam, jadi kolam dan areal yang lumayan luas ditebus untuk mendukung ekosistem bagi walet dan sriti, sebagai sumber makanan berupa serangga. 2 pohon pinus dibiarkan menjulang di anatara 2 rumah tersebut, daunya yang rontok merupakan bahan pembuat sarang bagi sriti. Beberapa speaker high frequensi yang biasa disebut twitter ditempel di beberpa sudut rumah, suar cemriwit mengalun menyerupai suara walet, sebagai media pemanggil walet untuk singgah dan menetap. Tak perlu tempat sepi dan terpencil untuk menarik menjadi sarang si walet, rumah yang berada dekat jalan raya Kosasih (kalo gak salah, patokannya sebrang jalan Gang masuk rumah Kang Elsa ada dealer Bajaj motor) dan padat penduduk mampu menghasilkan sarang yang pasti lumayan hasilnya.

Beberapa ekor walet sedang sibuk menunggu sarang, model balkon yang paling mahal harganya juga sedang dibangun, tak bergeming meski kami bertiga ngobrol di bawahnya persis. Model sudut menempel di pojokan.. Saat membuka ruangan sebelah yang paling ramai, dan memotret, beberapa ekor walet terbang ke arah kami, menyerang mempertahankan diri, pertanda banyak telur dan anak walet di sarang-sarang tersebut.
Segera kami keluar dan kembali ke kolam untuk menengok joranku, tali kail sedikit bergeming, beberapa saat ada tarikan meronta dan “straik, seekor Gurameh kecil ukuran 1/2 kilo keangkat dengan bibir dower kecancang mata kail, kalo tidak sobek pasti kurelease lagi, kasihan masih kecil… Oks kata Kang Elsa suruh angkut aja, ya udah bungkus..

 Kuganti umpan cacing dengan potongan cacing monster yang baru, ku lempar…plung… Sambil ngobrol seputar kolam dan rumah sarang walet yang temboknya pernah di jebol maling, juga konsultasi linux dan xp Kang Sapto yang ngehang.. Tiba-tiba ada gelembung udar kecil-kecil dari dasar kolam di sekitar titik mata kailku, kalo gak Gabus ya lele.. Dan ketika diangkat lele ebesar lengan berontak kesono kemari, “syukur” kata Kang Elsa “ini adalah ikan hama, yang ngabisin anak ikan yang lain” ternyata lele ini adalah pendatang gelap di kolam Kang Elsa, padahal sudah pernah dikeringin dan didapat pendatang gelap 3 ekor patin dan beberapa lele besar. Karnifora ini seperti bawal yang memangsa ikan lain.

Selanjutnya aku kembali straiik dengan Gurameh yang lumayan besar, tarikannya bikin takut tali putus, kuulur sejenak sebelum akhirnya kuangkat dengan joran yang melengkung, meski mata kail nyangkut di tenggorokan, tapi ikan tidak terluka, maka ikan kembali dilepas, dan suatu saat akan kupancing kembali untuk dibakar, tentu jika ada waktu tuk kembali nyambangi Sarang Walet… Jam menunjuk 14 lewat, …srottt..hidung ini susah diajak kompromi..terus mengalirkan isinya… kembali ke rumah untuk progres XP Kang Sapto.. Selanjutnya aku pamit karena ada urusan keluarga, yah waktu sangat pendek, padahal niatnya belajar linux.. Yowes.. Matur suwun Kang Elsa Barto dan keluarga yang sudi menjamu dan direpotkan olehku. Mudah-mudahan kelak bisa bakar ikan Gurameh bareng para Kumbokarno… :mrgreen:
oks terlalu panjang neh…kisah pulang yang luar biasa nanti saja ya… Srotttt….Keep safety dan paseduluran always..Wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Kopdar, sosial dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Walet, Ikan dan Sukabumi

  1. Imam Maskur berkata:

    wah kudune pas lagi nang bandung

  2. Aa Ikhwan berkata:

    ajiib 😀

  3. sinbe berkata:

    Straik terus walesane…

  4. Ping balik: Jarak tak Terkira « Triyanto Banyumasan Blogs

  5. kmphlynx berkata:

    wuasyembh…., bahas cacing… :mrgreen:

  6. Alris berkata:

    mantebs tenan. juragan walet e sugih yo kang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s