Anak Jalanan Hiasan Metropolitan


Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu

Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu

Anka Sekecil itu tak sempat nikmati waktu

Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal

…………………………………………………………………..

Berhenti di perempatan jalan karena lampu merah menyala, seorang anak kecil langsung bangkit menenteng koran kadaluarsa… hmmm.. jadi inget “SI BUDI KECIL” nya Iwan Fals. Dari mobil satu ke satunya, menawarkan koran pagi dijual malam ini, jarang yang merespon. Tiba dia melintas di dekat motorku dan menwarkan “Koran Om”.. “berapa ?” tanyaku “2 ribu saja” jawabnya enteng. Kebetulan ada lembaran 2 ribuan di tas tangki 7gear bagian atas, mudah dijangkau. Langsung saja aku ulurkan dan koran kumasukan ke tas.

Saluth sama si bocah ini, tapi juga iba, menanggung resiko celaka dan angin malam. Memakai pakaian seadanya, cenderung lusuh, entah anak-anak dari mana, apa dari sekitar perempatan tersebut atau bukan. Aku tak tahu. Cuma yang menarik pertama dipikirku adalah kemauan mencari duit dengan menjual koran kadaluarsa, tidak meminta-minta atau sekedar main “KECREKAN”.

Keesaokan malamnya aku siapkan lembaran 2 ribuan di dompet dan saat berhenti di perempatan tersebut, sengaja saya mepet ke tiang lampu merah (trotoaar tengah jalan) di mana anak-anak ini berkumpul menunggu kendaraan berhenti, duduk di trotoarnya dengan kaki menjutai ke aspal, berbahaya sekali jika ada kendaraan ngebut dan nyerempet kaki-kaki mungil itu.

Aku menunggu ditawarin koran, ternyata tidak ada satupun anak yang mendatangiku untuk menawarkan dagangannya, mereka lebih memilih mobil-mobil pribadi yang berjejer menunggu lampu merah berganti hijau. Yah anggapan bahwa yang bermobil itu lebih berduit, kemungkinan sekedar mengulungkan 2 ribuan pasti enteng, tapi nyatanya tidak demikian, alot dan sedikit sekali yang perhatian.

Di dekatku berhenti, masih duduk 2 bocah laki-laki kecil menenteng koran, kupanggil salah satunya, kuulurkan 2 ribuan, dia hanya bilang “terimakasih om” tanpa memberikan koran, akupun diam saja, barangkali koran yang dipeganya lebih mahal harganya, sehingga duitku hanya dianggap belas kasihan semata. Karena temannya merhatiin, kuulurkan pula 2 ribuan ke dia, takut iri. Akhirnya batal mendapatkan koran kadaluwarsa, dan mungkin hanya dianggap dermawan, padahal aku lebih suka kalo bocah ini merasa bahwa dagangannya laku, bukan merasa sebagai penerima pemberian orang karena belas kasihan.

Bekerja atau mengais rizki di jalanan bukan pemandangan aneh di Jakarta, dari kaki lima, asongan, pengamen, pengemis sampai penjahat, semua ada di jakrta, bahkan lahan parkir pinggir jalan bisa jadi rebutan dan tawuran antar kelompok, baik kelompok preman maupun kelompok ter dan berorganisasi. Parahnya mereka bisa saling bunuh…

Sodaqoh itu bagus, kata Kang Nadi alangkah bagusnya jika kita memberi pancingan bukan ikannya. tulisan ini juga tidak bermaksud pamer kedermawanan. Sekedar share salah satu ironi metropolitan yang abadi mengiringi gempita jalanan ibukota. Wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di jakarta, Jalan jakarta, musik dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Anak Jalanan Hiasan Metropolitan

  1. shumy27 berkata:

    besok nongkrong di prapatan sono ah,biar dikasih 2 rebu…lumayaaannn dapet 2 batang… :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s