Outsourcing, Jual Beli Buruh ?


Yayasan atau lembaga Outsourcing seingatku mulai mewabah saat kepemimpinan Presiden Megawati Sukarno Puteri yang katanya “MEMBELA HAK WONG CILIK” , saat itu aku ikut merasakan didepak dari induk korporasi ke induk semang outsource ini. Berbagai upaya melawan “KEDZALIMAN” diupayakan, mengadu ke Serikat Pekerja, bergerilya ke Gatot Subroto sampai mendirikan Serikat Pekerja Independent di luar Serikat Pekerja perusahaan, karena Outsource ga punya SP yang mengakomodasi keluhan buruh, kalo gak salah sekelompok temanku masih eksis sampai sekarang memerangi perbudakan modern ini. Bergerilya dari satu korporasi ke korporasi lainnya, memperjuangkan hak buruh yang tergadaikan. Mudah-mudahan beliau dan kawan-kawan istiqomah, dan tidak menjual hak buruh demi kepentingan pribadi. AMIN

Tulisan ini terinspirasi atas ketidak seimbangan pendapatan buruh satu lembaga outsource dengan lembaga outsource yang lain yang ada di lingkunganku, jadi ada beberapa lembaga outsource dalam satu korporasi, scurity, pemeliharaan, operasional dan mungkin ada lagi yang lain. Katakanlah saya punya anak asuh beberapa gelintir dari 2 lembaga outsource yang berbeda, ternyata pendapatan keduanya berbeda jauh, perhitungan lembur gak jelas, pendapatan berdasarkan kehadiran timpang. Sayapun akan segan mempekerjakan over time karenanya, sama saja dzalim, membebankan pekerjaan tanpa upah, ini romusha namanya. Lantas siapa yang salah.

Hal yang perlu digaris bawahi adalah, anak-anak tersebut dari basic yang hampir sama, kerjapun sama, jam kerja sama, karena kurang tenaga maka perlu mengambil dari bidang lain yang berbeda lembaga outsource. Lantas jika mereka mampu bekerja di dua bidang yang berbeda, mengapa harus beda lembaga outsource sebagai sumber mendatangkan pekerja ? Ini yang menimbulkan prasangka ada KUE YANG MESTI DIBAGI RATA, alias Jual beli BURUH demi buruh pengelola Outsource.

Menilik pasal perundangan buruh atau ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003, pengaplikasian OUTSOURCING atau Contracting out sepertinya sudah salah kaprah.. kita simak BAB IX tentang HUBUNGAN KERJA pasal 59

(1) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu, yaitu :
a. pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya;
b. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun;
c. pekerjaan yang bersifat musiman; atau
d. pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.

(2) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap.

(3) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dapat diperpanjang atau diperbaharui.

(4) Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 (dua) tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun.(5) Pengusaha yang bermaksud memperpanjang perjanjian kerja waktu tertentu tersebut, paling lama 7 (tujuh) hari sebelum perjanjian kerja waktu tertentu berakhir telah memberitahukan maksudnya secara tertulis kepada pekerja/buruh yang bersangkutan.

(6) Pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat di adakan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu yang lama, pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu ini hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan paling lama 2 (dua) tahun.

(7) Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) maka demi hukum menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu.

(8) Hal-hal lain yang belum diatur dalam Pasal ini akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.

Sedikit nukilan, cermati dan apakah pekerjaan anda (jika anda outsorce) selesai dalam 3 tahun, apakah pekerjaan anda bukan suatu pekerjaan yang sifatnya tetap atau musiman, apakah…. silahkan cermati dan lihat sekeliling kita, jual beli buruh ? Dan siapa yang memanen? Nah untuk lebih jelasnya silahkan Unduh  sendiri Undang-Undang Ketenagakerjaan no.13 tahun 2003 ini. Dan cari perundangan pendukung yang lain, bukan memprovokasi buruh, tapi suatu keprihatinan dari mantan oursource yang bekerja sehari-heri bersama anak-anak outsourc. Wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Sekitar Kita dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

17 Balasan ke Outsourcing, Jual Beli Buruh ?

  1. icaq berkata:

    ikut prihatin…

  2. Mochammad berkata:

    outsourcing memang mirip perbudakan. Tega sekali perusahaan semacam itu ya; bisa gitu makan dari hasil keringat orang.

    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

  3. inue satrio berkata:

    ikut prihatin…… walau ditempat ane tidak ada yg di bedakan secara payment…… tapi jangka waktu yg membikin prihatin plus tidak ada kepastian utk permanent

  4. Amama Ali berkata:

    benar-benar tidak sesuai pancasila klo begitu
    5. Keadilan Sosial Bagi seluruh rakyat Indonesia
    sumpah, baru faham outsourcing setelah baca tulisan antum

  5. Gianluigi mario berkata:

    saya ikut kasihan,,
    kalo gak keliru outsourcing mulai marak sejak jaman ibu Mega ..

    http://learningfromlives.wordpress.com/2012/02/06/prediksi-updated-vixion/

  6. jahe berkata:

    hmmmm prnh ngalami jadi tenaga kontrak harian lepas…padahal kerja jadi staf di bagian semacam hrd

  7. negara galau, negara kacau, jual beli manusia dengan menuhankan sistem kontrak, seharusnya sistem OS tidak boleh ada karena pada prakteknya cuma menguntungkan pihak penyedia jasanya, sedangkan nasib para pekerjanya? au ah gelap.. turut prihatin masbro 😦

    ijin nitip kandang masbro :mrgreen:
    http://karawangtigerrider.wordpress.com/2012/02/07/hoax-kah-jebakan-betmen-oknum-polisi/

  8. lare berkata:

    otsorsing = perbudakan..
    kalau ndak mau jadi budak, ya berusahalah menjadi juragan budak !!!

    jangan lupa, budaknya di sejahterakan a.k.a di merdekakan…

  9. Virus berkata:

    GW BILANG OUTSOURCE ITU BIADAB!
    contoh kasus nyata yg di alami hampir banyak orang, pada salah satu perusahaan BUMN (gk perlu gw sebutin) yg saat itu mengadakan outsourcing…
    daftar menggunakan ijasah sarjana, lalu kontrak kerja…eh ternyata sekali terima upah/gaji…DASAR BIADAB terdaftar bukan sebagai lulusan sarjana tapi sebagai LULUSAN SMA! sehingga upah/gaji yg diterima jauh dari kata layak! dan lebih parah nya lagi waktu kerja karyawan outsource LEBIH LAMA (bahkan DIPAKSA UTK LEMBUR TANPA IMBALAN BALIK SEDIKIT PUN) ketimbang karyawan TETAP BUMN TSB!
    PERBUDAKAN MODERN SEMUA DIMULAI DARI PEMIMPIN NEGARA YG SEMBRONO!
    HAPUSKAN OUTSOURCING!
    MAU PERUSAHAAN KABUR TERSERAH! WONG INDONESIA LAHAN EMPUK BISNIS MASIH BANYAK PERUSAHAAN LAIN YG AKAN MENSASAR INDONESIA

  10. Maskur berkata:

    outsouching
    pernah mengalami, tapi kebetulan perjanjiannya pegawai yang dioutsouching kan pemdapat perlakuan 90% sama dengan yang bukan…
    malah gaji naik 20 %
    SPJ selisih 5 juta….asik asik
    (masa lalu)

  11. Ibu Pertiwi berkata:

    Goverment Rule…..Company Will….F**K

  12. rumah kOpi berkata:

    out sourching: mau enaknya saja 😦

  13. gogo berkata:

    benar2 miris.. outsorcing dimana2..

  14. blognyamitra berkata:

    Outsourcing = perbudakan modern…
    Hancurkannn…!!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s