Kepercayaan Itu


Bapak itu sudah cukup berumur, mungkin 55 tahunan, tapi dengan semangat dia mengantar belanjaan pesanan langganan. Menggunakan motor bebek memakai keranjang besi di belakang, kanan dan kiri layaknya rear dan side box pada motor penjelajah. Bapak tua inipun mejelajah ke pelosok gangan mengantar belanjaan pesanan langganannya, 10 galon aqua bisa dia bawa sekaligus, juga berbagai minuman berkardus enteng diangkutnya.

Semula saya pikir Bapak tua ini hanyalah pembantu di agen tempat isteriku memesan dagangan, saat di toko tersebut ternyata hanya ada seorang ibu, dan saat membayar pesanan di rumah, si Bapak tua ini tidak memakai bon, padahal isteriku memberi tips tambahan sebagai imbalan kiriman, karena penasaran isteripun bertanya: “Mengapa sendirian Pa?, ga ada temen yang lain ?” dari pertanyaan inilah terungkap jati diri si bapak Tua pengantar barang dagangan tersebut dan mengapa dia rela mengantar sendiri dagangan yang lumayan berat bagi ukuran orang seumuran dia.

Dahulu, beberapa tahun silam si Bapak memiliki pembantu, tapi beberapa kali si Pembantu yang ditugaskan mengantar barang dagangan melakukan kesalahan, kadang uang ga sesuai dengan jumlah dagangan mungkin, dan paling parah adalah saat si pembantu diutus mengantar seabrek gas LPG memakai motor yang memakai keranjang belakang, pulang ke toko dengan jalan kaki dan mengatakan bahwa kiriman gas LPG ke langganan hilang bersama motornya. bayangkan, mungkin lebih dari 20 tabung LPG 3kg raib beserta alat angkutnya, sungguh keteledoran yang susah diterima akal sehat, akhirnya si Bapak memecat pembantunya tersebut dan mulaio saat itu si Bapak melakukan tugas mengantar barang dagangan sendiri.

Selanjutnya, karena si Bapak harus mondar-mandir mengantar barang dagangan, isterinya sendirian di toko, tidak ada yang membantu, maka si Bapak mengambil orang dari kampung sebagai pembantu di tokonya agar isterinya lebih ringan kesehariannya. Tapi lagi-lagi keganjilan terjadi, uang yang terkumpul tidak sesuai dengan prosentase barang yang diperdagangkan, hal ini berjalan sampai 4 tahun, ternyata si pembatu toko selalu mengambil uang dan mengumpulkannya tanpa terlalu kentara, dan setelah 4 tahun itulah baru diketahui, kalo pembantunya mencopet di tokonya sendiri, dan diketahui keganjilan, karena sang Pembantu mampu membangun rumah dan membeli kendaraan di kampung, hal yang tidak masuk akal jika dilihat dari gaji si pembantu.

Akhirnya hilanglah kepercayaan si Bapak dan Ibu tadi kepada pembantunya, dan bersikeras untuk menjalankan usahanya lebih mandiri, isterinya menjaga dan melayani di toko, sedang si Bapak mengantar barang dagangan ke pemesan. Kemana anak-anaknya? Beliau menjawab semua sekolah, ya demi pendidikan yang layak bagi anaknya, orang tua ini berjuang mengarungi gangan mengantar dagangan. Yah KEPERCAYAAN, hal yang kadang susah didapat dimasa sekarang ini, percaya kepada orang lain perlu bukti dan ada sanksi… lalu pantaskah kita untuk dipercaya saat ini, bahkan dalam menulis, layakah tulisanku untuk dipecaya sebagai bacaan yang layak dibaca…. tanya lubuk hati paling dalam dan jawabnya MERAGUKAN… Wassalamu’alaikum

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di pendidikkan dan tag , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Kepercayaan Itu

  1. warung DOHC berkata:

    kepercayaan mahal kang # ga bisa di value kan cmiiw

  2. kejujuran jadi barang langka, aneh dan jadul

  3. bennythegreat berkata:

    if you want to get things done, do it yourself

  4. nadi berkata:

    Susah bener nyari bebi siteeeerrr….. :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s