Ngaca Jiwa


Alhamdulillah tidak diganggu nyamuk, apakah karena tidak ngantuk, sehingga Allah Ta’ala tidak  mengirim nyamuk untuk menggigit membangunkan hamba-Nya, bisa jadi karena saya telat (malu) alias masbuk sehingga tidak pantas sekali kalo sampai ngantuk (udah telat molor pula) Akhirnya mampu menyimak Kultum Duhur Senin, oleh Ustad Sutono. Riyadhus Shalihin, BAB III Sabar, hadits 30, (postingan hadits ini dikutip dari SlideShare karena saya tidak hafal) :

Dari Shuhaib r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dahulu ada seorang raja dari golongan ummat yang sebelum engkau semua, ia mempunyai seorang ahli sihir. Setelah penyihir itu tua, ia berkata kepada raja: “Sesungguhnya saya ini telah tua, maka itu kirimkanlah padaku seorang anak yang akan saya beri pelajaran ilmu sihir.” Kemudian raja itu mengirimkan padanya seorang anak untuk diajarinya. Anak ini ditengah perjalanannya apabila seseorang rahib (pendeta Nasrani) berjalan di situ, iapun duduklah padanya dan mendengarkan ucapan-ucapannya. Apabila ia telah datang ditempat penyihir – yakni dari pelajarannya, iapun melalui tempat rahib tadi dan terus dudukdi situ – untuk mendengarkan ajaran-ajaran Tuhan yang disampaikan olehnya. Selanjutnyaapabila datang di tempat penyihir, iapun dipukul olehnya – kerana kelambatan datangnya. Hal yang sedemikian itu diadukan oleh anak itu kepada rahib, lalu rahib berkata: “Jikalau engkau takut pada penyihir itu, katakanlah bahwa engkau ditahan oleh keluargamu dan jikalau engkau takut pada keluargamu, maka katakanlah bahwa engkau ditahan olehpenyihir.” Pada suatu ketika di waktu ia dalam keadaan yang sedemikian itu, lalu tibalah ia disuatu tempat dan di situ ada seekor binatang yang besar dan menghalang-halangi orangbanyak – untuk berlalu di jalanan itu. Anak itu lalu berkata: “Pada hari ini saya akanmengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah pendeta itu yang lebih baik?” Iapun lalu mengambil sebuah batu kemudian berkata: “Ya Allah, apabila perkara pendeta itu lebih dicintai di sisi-Mu daripada perkara penyihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.” Selanjutnya binatang itu dilemparnya dengan batu tadi, kemudian dibunuhnya dan orang-orang pun berlalulah. Ia lalu mendatangi rahib dan memberitahukan hal tersebut. Rahib itupun berkata: “Hai anakku, engkau sekarang adalah lebih mulia daripadaku sendiri. Keadaanmu sudah sampai di suatu tingkat yang saya sendiri dapat memakluminya. Sesungguhnya engkau akan terkena cobaan, maka jikalau engkau terkena cobaan itu, janganlah menunjuk kepadaku.” Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan berpenyakit lepra serta dapat mengobati orang banyak dari segala macam penyakit. Hal itu didengar oleh kawan seduduk- yakni sahabat karib – raja yang telah menjadi buta. Ia datang pada anak itu dengan membawa beberapa hadiah yang banyak jumlahnya, kemudian berkata: “Apa saja yang ada di sisimu ini adalah menjadi milikmu, apabila engkau dapat menyembuhkan aku.” Anak ituberkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan siapapun, hanyasanya Allah Taalayang dapat menyembuhkannya. Maka jikalau Tuan suka beriman kepada Allah Taala, sayaakan berdoa kepada Allah, semoga Dia suka menyembuhkan Tuan. Kawan raja itu laluberiman kepada Allah Taala, kemudian Allah menyembuhkannya. Ia lalu mendatangi raja terus duduk di dekatnya sebagaimana duduknya yang sudah-sudah. Raja kemudianbertanya: “Siapakah yang mengembalikan penglihatanmu itu?” Maksudnya: Siapakah yang menyembuhkan butamu itu? Kawannya itu menjawab: “Tuhanku.” Raja bertanya: “Adakah engkau mempunyai Tuhan lain lagi selain dari diriku?” Ia menjawab: “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Kawannya itu lalu ditindak oleh raja tadi dan terus-menerusdiberikan siksaan padanya, sehingga kawannya itu menunjuk kepada anak yangmenyebabkan kesembuhannya. Anak itupun didatangkan. Raja berkata padanya: “Hai kiranya sihirmu sudah sampai ke tingkat dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit lepra dan engkau dapat melakukan ini dan dapat pula melakukan itu.”Anak itu berkata: “Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan seseorangpun, hanyasanya Allah Taala jualah yang menyembuhkannya.” Anak itupun ditindaknya, danterus-menerus diberikan siksaan padanya, sehingga ia menunjuk kepada pendeta. Pendetapun didatangkan, kemudian kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu!”Maksudnya supaya meninggalkan agama Nasrani dan beralih menyembah raja dan patung-patung. Pendeta itu enggan mengikuti perintahnya. Raja meminta supaya diberi gergaji, kemudian diletakkanlah gergaji itu di tengah kepalanya. Kepala itu dibelahnya sehingga jatuhlah kedua belahan kepala tersebut. Selanjutnya didatangkan pula kawan seduduk raja dahulu itu, lalu kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu itu!” Iapun enggan menuruti perintahnya. Kemudian diletakkan pulalah gergaji itu di tengah kepalanya laludibelahnya, sehingga jatuhlah kedua belahannya itu. Seterusnya didatangkan pulalah anak itu. Kepadanya dikatakan: “Kembalilah dari agamamu.” lapun menolak ajakannya. Kemudian anak itu diberikan kepada sekelompok sahabatnya lalu berkata: “Pergilahmembawa anak ini ke gunung ini atau itu, naiklah dengannya ke gunung itu. Jikalau engkau semua telah sampai di puncaknya, maka apabila anak ini kembali dari agamanya, bolehlah engkau lepaskan, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah ia dari atas gunung itu.” Sahabat-sahabatnya itu pergi membawanya, kemudian menaiki gunung, lalu anak itu berkata: “Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu.” Kemudian gunungitupun bergerak keras dan orang-orang itu jatuhlah semuanya. Anak itu lalu berjalan menujuke tempat raja. Raja berkata: “Apa yang dilakukan oleh kawan-kawanmu?” Ia menjawab:”Allah Taala telah melepaskan aku dari tindakan mereka. Anak tersebut terus diberikan kepada sekelompok sahabat-sahabatnya yang lain lagi dan berkata: “Pergilah dengan membawa anak ini dalam sebuah tongkang dan berlayarlah sampai di tengah lautan. Jikalauia kembali dari agamanya – maka lepaskanlah ia, tetapi jika tidak, maka lemparkanlah kelautan itu.” Orang-orang bersama-sama pergi membawanya, lalu anak itu berkata: “Ya Allah, lepaskanlah hamba dari orang-orang ini dengan kehendakMu.” Tiba-tiba tongkang ituterbalik, maka tenggelamlah semuanya. Anak itu sekali lagi berjalan ke tempat raja. Rajapun berkatalah: “Apakah yang dikerjakan oleh kawan-kawanmu?” Ia menjawab: “Allah Taala telah melepaskan aku dari tindakan mereka.” Selanjutnya ia berkata pula pada raja: “Tuantidak dapat membunuh saya, sehingga Tuan suka melakukan apa yang kuperintahkan.” Raja bertanya: “Apakah itu?” Ia menjawab: “Tuan kumpulkan semua orang di lapangan menjadi satu dan Tuan salibkan saya di batang pohon, kemudian ambillah sebatang anak panah daritempat panahku ini, lalu letakkanlah anak panah itu pada busurnya, lalu ucapkanlah:”Dengan nama Allah, Tuhan anak ini,” terus lemparkanlah anak panah itu. Sesungguhnya apabila Tuan mengerjakan semua itu, tentu Tuan dapat membunuhku.” Raja mengumpulkan semua orang di suatu padang luas. Anak itu disalibkan padasebatang pohon, kemudian mengambil sebuah anak panah dari tempat panahnya, lalumeletakkan anak panah di busur, terus mengucapkan: “Dengan nama Allah, Tuhan anak ini.”Anak panah dilemparkan dan jatuhlah anak panah itu pada pelipis anak tersebut. Anak itu meletakkan tangannya di pelipisnya, kemudian meninggal dunia. Orang-orang yang berkumpul itu sama berkata: “Kita semua beriman kepadaTuhannya anak ini.” Raja didatangi dan kepadanya dikatakan: “Adakah Tuan mengetahui apa yang selama ini Tuan takutkan? Benar-benar, demi Allah, apa yang Tuan takutkan itu telah tiba – yakni tentang keimanan seluruh rakyatnya. Orang-orang semuanya telah beriman.” Raja memerintahkan supaya orang-orang itu digiring di celah-celah bumi – yang bertebing dua kanan-kiri – yaitu di pintu lorong jalan. Celah-celah itu dibelahkan dan dinyalakan api di situ, Ia berkata: “Barangsiapa yang tidak kembali dari agamanya, maka lemparkanlah ke dalam celah-celah itu,” atau dikatakan: “Supaya melemparkan dirinya sendiri ke dalamnya.” Orang banyak melakukan yang sedemikian itu – sebab tidak ingin kembali menjadi kafir dan musyrik lagi, sehingga ada seorang wanita yang datang dengan membawa bayinya. Wanita ini agaknya ketakutan hendak menceburkan diri ke dalamnya. Bayinya itu lalu berkata: “Hai ibunda, bersabarlah, kerana sesungguhnya ibu adalah menetapi atas kebenaran.” (Riwayat Muslim)

Dzirwatul jabal artinya puncaknya gunung. Ini boleh dibaca dengan kasrahnya dzalmujamah atau dhammahnya. Alqurquur dengan didhammahkannya kedua qafnya, adalah suatu macam dari golongan perahu. Ashshaid di sini artinya bumi yang menonjol (bukit). Alukhduud ialah beberapa belahan di bumi seperti sungai kecil. Adhrama artinya menyalakan. Inkafa-at artinya berubah. Taqaa-asat, artinya terhenti atau tidak berani maju dan pula merasa ketakutan.

——————————–

Untuk lebih paham sila datang kepada guru yang berkompeten, postingan ini sekedar pengingat bagi pribadi ini, yang bergelimang syubhat dan bid’ah. Na’udzubillah. Semoga Allah Ta’ala, Zat yang membolak-balikan hati, menetapkan hati kita pada agama-Nya yang lurus. Amin (Tri)

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Alloh dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Ngaca Jiwa

  1. Maskur berkata:

    maca, tapi tulisane ana sing berulang ulang apa ya

  2. ipanase berkata:

    izin nyimak suhu ( melu bingung )

  3. nadi berkata:

    Kasihan mataku ini.
    Ora ono paragrafe 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s