Redbelt, Saat Sabuk Tak Sekedar Ikat Pinggang


redbelt-jiu-jitsu-brasilian-fenomena-blogger-dolariahRedbelt, film yang tayang pada tahun 2008 ini tidak sengaja saya tonton di layar kaca Cinemax. Jadi tidak utuh. Inti cerita adalah idealisme seorang petarung Jiu-Jitsu Brasilian yang akhirnya tergadaikan karena ekonomi. Alias memenuhi kebutuhan hidup. Kisah lengkapnya silahkan browsing di google.

Menurut saya alur ceritanya agak membingungkan, mungkin karena saya tidak menonton utuh. Meski demikian masih bisa dinikmati, bahkan mengasah daya imajinasi penonton. Jadi saya harus melengkapi sendiri alur cerita yang terasa hilang, meski bukan berarti tidak nyambung. Sedikit ‘gagap’ menurutku.

Intinya ada idealisme yang dikhianati dan harus dikembalikan. Idealisme yang coba digadaikan demi uang, justeru merusak segala sisi keidupan pemilik idealisme itu sendiri. Jadi jika anda punya idealisme, jangan paksakan kepada orang lain. Sampaikan boleh sekedarnya, tapi jangan terlalu diumbar, itu pamer atau nantangin lawan yang kontra dengan idealisme tersebut.

Jika ingin bertahan, mungkin perlu kepura-puraan, apalagi terkait uang yang mengarah ke perut, maka akan banyak benturan dan dalih mencari kebenaran. Padahal, menjemput rizki tidak perlu ngotot, karena ‘kantong’nya sudah ditentukan. Jadi cukupkan saja, maka semua menjadi cukup dan tak perlu mengusik idealisme.

Tapi sekali lagi, otot perut itu flexible, bisa mengecil, six pack, menkotak kaya perut Adi Ray, bisa juga membuncit dan berlemak. Nah, kalo tidak six pack, paling tidak, hindari membuncit. Karena perut besar dan buncit belum tentu perlu isi yang banyak tapi ada kecenderungan makan banyak. Jika tidak dijaga maka akan timbul ‘nggragas’ sama makanan alias maruk. Kalo sudah begini, waspadai berbagai penyakit yang akan hinggap, apalagi kalo sampai ‘kemlakaran’.

si-kembar-naik-honda-tiger.jpgBegitulah, ini yang saya rasakan pribadi, bukan bermaksud menggurui atau mensehati. Saat saya mengejar apa yang saya inginkan, maka tidak akan ada cukupnya. Contoh, dulu saya ingin sekali memiliki Honda Tiger dari pertama launcing di tahun 1994. Saat itu saya masih bocah, meski tidak ingusan 😀 . Nah saat 2006 muncul Honda Tiger Revo, keinginan itu menggebu dan satu tahun berikutnya saya miliki. Ternyata, STNK belum keluar saja, saya sudah mulai bosan dengan si Tirev, meski saya mampu mempertahankannya hampir 4 tahun. Dan selama 4 tahun itu, beberapa kali saya modifikasi untuk mengatasi kejenuhan akan tunggangan.

modifikasi-tiger-revo-repsol.jpgTulisan ini jadi ngelantur, yah sesekali mengembalikan fungsi awal blog sebagai catatan pribadi syah-syah saja kan? Karena Mengejar keinginan itu tidak ada habisnya, manusiawi, oleh karenanya mencukupkan keinginan menjadi hal yang sulit. Saya hanya ingin mengingatkan pada diri saya di penghujung 2015 ini, bahwa Saat sawah terhampar luas dan menguning siap panen, hindari menanam singkong di antara rimbunya padi hanya karena bosan makan nasi dan ingin makan timus (tri).

 

Iklan

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di movie dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Redbelt, Saat Sabuk Tak Sekedar Ikat Pinggang

  1. dimensiontripper berkata:

    bner tuh om. mncukupkan keinginan tuh sulit… dirumah udah ada vario techno yang nyaman walau boros dan lemot. dalam hati udah berkali kali pingin ganti yang jauh lbih kenceng tpi ya klo dipikir lgi sih buat apa. toh buat ngejar teman yang naek ninin r aja asal banyak tikungan gampang :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s