Untuk Waktu Yang Terbuang


Hai, Saya sebenarnya bingung mau menulis apa. Judulnyapun agak membingungkan karena saya ragu mau ngasih judul ‘Untuk Waktu yang Terbuang’ atau ‘Untuk Waktu yang Tersisa’. Kok bisa?

Bagi anda yang sudah cukup berumur atau bagi saya sudah cukup lama mewarnai dan mengotori muka bumi ini, kadang terfikir dengan masa lalu, misal kenangan masa sekolah atau masa kecil yang terasa sia-sia dan tidak cukup indah untuk dijadikan kenangan dan bahan cerita dengan rekan yang bertemu setelah saya cukup berumur. Apa yang mau saya kisahkan jika masa lalu saya hanyalah sebuah kenangan datar tanpa makna berarti.

Pernahkah anda, yang sudah berumur khususnya, menonton film remaja dengan thema romance seperti Dilan (saya belum pernah nonton si) atau Surat Cinta Untuk Starla, nah yang kedua saya cukup suka dengan lagu soundtracknya, saya nonton meski banyak skip, meski begitu saya bisa menebak alur ceritanya. Atau bagi penggemar Drama Korea mungkin pernah nonton The Heirs yang dibintangi Lee Min Ho dan Park Shin Hye. Baiklah saya anggap ada pembaca yang menonton beberapa judul yang saya tulis, minimal tahu Ada Apa Dengan Cinta yang pertama dimana Nicholas Saputra dan Dian Sastro Wardoyo masih bisa disebut remaja.

Mengapa saya menyebutkan beberapa judul film/drama yang bertema romantis? Karena saya suka dengan keromantisan. Titik. Selesai

Enggak selesai begitu juga kali. Hanya saja saya merasa terganggu saat menyaksikan keromantisan atau kisah remaja yang cukup layak untuk dikisahkan. Kadang saya mendengar kisah kenakalan remaja yang diceritakan beberapa rekan saya. Yah kenakalan khas remaja masa sekolah dan mereka cukup bangga dengan kenakalan tersebut. Mereka menganggap itu cukup layak untuk diceritakan dimasa kini ataua masa tua, bisa dibilang begitu. Misal bolos sekolah, berantem dengan siswa lain atau tawuran dengan siswa dari sekolah lain, ditangkap polisi dan tetntu tidak ketinggalan pacaran masa sekolah. Hai, kalian masih bocah udah pacaran. Mungkin saat ini saya akan bilang begitu kepada anak saya. Tapi apakah kita pernah merasa sebagai anak-anak waktu umuran SMA?

Benar, saat saya umur SMA (meski saya tidak pernah mngenyam pendidikan SMA) setelah saya ingat, umuran itu saya tidak merasa sebagai anak-anak. Saya merasa sudah cukup dewasa untuk menentukan langkah dalam menapaki kehidupan. Naif sekali. Tapi saat itu kita akan menganggap bahwa anak SD dan SMP itu masih kanak-kanak bukan? Atau mungkin ini hanya pendapat saya saja? Entahlah, yang pasti, waktu itu, masa itu, di umur itu, saya merasa ada waktu yang terbuang tanpa kenangan berarti.

Lantas apakah saya harus menyesali karena tidak memiliki kenangan masa remaja atau masa sekolah yang cukup layak untuk dikisahkan sekarang ini? Tentu tidak perlu karena akan semakin membuang waktu yang sudah terbuang dan semakin sia-sia. Tapi kadang saya berpikir untuk bisa melakukan banyak hal di masa lalu agar masa kini lebih berarti.

Sudahlah.

Untuk waktu yang terbuang, akankah kamu kembali?

Untuk waktu yang terbuang, maafkan saya membuangmu

Untuk waktu yang terbuang, selamat tinggal, maafkan saya mengecewakanmu.

Untuk waktu yang tidak terbuang, terimakasih mengijinkanku menggendongmu ala bridal style saat kerusuhan konser Slank dan Iwan Fals. Love You. (tri)

===========================

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

  • وَالۡعَصۡرِۙ
  • Demi masa,
  • اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ
  • sungguh, manusia berada dalam kerugian,
  • اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ
  • kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di masa kecil dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Untuk Waktu Yang Terbuang

  1. adnabilah berkata:

    Kadang yang orang-orang maksud sebagai “kenangan yang berarti” itu lebih mengarah ke masa-masa mengalami cinta monyet, atau masa-masa “kenakalan ala remaja” ya. Saya juga merasa hidupnya lurus-lurus aja jaman SMA, meski tentu banyak kejadian-kejadian seru tersendiri. Tapi kalau dibandingin dengan adek laki-laki saya yang cerita masa SMA-nya, kayaknya memori dia lebih seru alias lebih banyak momen bandelnya hehe. Very well-written btw, salam kenal ya!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s