Asu Buntung Generation


Asu Buntung.

Ada yang tahu dua kata di atas? Bukan, ini bukan novel baru saya atau sebuah cerita, tapi masih ada kaitannya dengan novel.

Bagi sebagian warga Banyumas, terutama generasi 80an dan sebelumnya mungkin familiar dengan dua kata tersebut.

Asu buntung. Dua kata yang tabu untuk diucapkan sembarang orang atau hanya pantas diucapkan oleh orang sembarangan? Ah, pernyataan saya jadi pertanyaan.

Ya, kata Asu Buntung adalah ungkapan kekecewaan, kekesalan berupa makian atau cacian kepada lawan bicara, lawan tanding atau bisa juga kepada kawan, saudara dan, ah, intinya kepada manusia atau mahluk lain. Hanya saja, kata ini sungguh dibenci bagi mereka yang menjunjung tinggi adab sopan santun dan tata krama. Ungkapan ini sungguh biadab pada zamannya, alias hanya orang yang kurang beradab yang berani meneriaknnya. Dasar Asu Buntung!!!

Asu berarti anjing, sedang buntung berarti tidak memeiliki ekor. Saya juga tidak tahu mengapa ungkapan ini lebih kasar dibanding makian lainnya. Apakah berarti seekor anjing yang tidak memiliki ekor atau punya ekor tapi cacat dan tidak utuh merupakan kehinaan tersendiri di kalangan kawanan anjing. Entahlah, anggap saja begitu.

Jadi, asu buntung adalah makian kasar yang tidak diucapakan oleh semua orang alias tidak setiap orang memiliki keberanian untuk memaki menggunakan kata tersebut. Karena biasanya, akan ada kata-kata cabul dan semacamnya yang mengiringi makian tersebut. Hanya mereka yang berani mengabaikan adab tata susila yang berani mengucapkannya.

Dalam karya tulis, saya menemukan kata ‘asu buntung’ pada cerita Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis oleh novelis kenamaan, Ahmad Tohari. Seting dari cerita ini juga berasal dari wilayah ngapakers alias Banyumas. Kalimat yang terangkai menjadi paragraf disuguhkan begitu apik dengan penggambaran kearifan lokal sebuah daerah terpencil di Banyumas bernama dukuh Paruk, kebodohan yang tidak disadari, keyakinan musral yang mendarah daging dari peninggalan bromohcorah dan keudikan lain yang sungguh saya mengenal sebagian besar gambaran itu. Bacalah dan kalian akan terpesona.

Dari uraian di atas, bahwa asu buntung merupakan ungkapan makian kuno zaman saya kecil, apakah berarti saya termasuk generasi asu buntung itu? Sesuai judul. Oh tidak, tunggu dulu.

Dalam dunia yang sudah modern ini, seperti yang pernah saya bilang pada artikel lalu, bahwa kadang saya membaca novel di wattpad dan di wattpad novel atau karya tulis disajikan perbagian, alias tidak selesai dalam satu kali posting. Per bab, nomor ataupun bagian.

Karena modernisasi ini, novel tidak sekedar disajikan dalam bentuk fisik tapi juga virtual. Dan wattpad memfasilitasi penulis untuk mengungkapkan hobi atau bakat seseorang. Dengan penyajian yang bertahap, pembaca akan penasaran dan menunggu update bab selanjutnya, tentu tidak semua karya tulis akan mendapat sambutan serupa, tapi bagi penulis yang sudah cukup ternama dan memiliki banya folowwer, komentar “next Kak” atau “next thor” yang ditujukan kepada penulis atau author adalah hal yang lumrah dan menjadi penyemangat bagi penulis. Sayangnya, terkadang, pembaca kurang peka dalam memilih sebuah karya tulis, dalam hal ini novel. Tentu ini versi saya, sangat subyektif. Novel yang disinyalir memiliki vote, follower dan komentar banyak akan menarik perhatian penerbit meski isinya hanya tong kosong. Masa tong kosong banyak diminati, kan asu buntung… ups, keceplosan.

Pada screen shot di atas bisa dilihat, lingkaran kanan adalah komentar yang bisa dilakukan oleh pembaca yang login ke wattpad di tiap paragraf tulisan. Sedang tanda merah dalam badan tulisan itu yang menarik perhatian saya untuk menulis Asu Buntung Generation ini.

Saya tidak akan membahas isi novel ini ataupun penulisnya. Tapi saya menyikapi kata-kata yang digambarkan oleh penulis di dalam cerita tersebut. Novel ini belum selesai tapi penulis menyatakan bahwa novel akan terbit dan bisa dibeli di semua Gramedia. Keren kan.

Apa yang menarik perhatian saya?

Cerita berlatar sekolah SMA, kelas 2 atau kelas 11. Ucapan yang diletakan pada beberapa siswa di dalam cerita teresbut menggunakan kata-kata makian yang bagi saya, setara dengan makian ASU BUNTUNG. Lihat yang saya tandai merah di badan tulisan. Kata anjing, bangsat, bacot, Tai dan semacamnya mewarnai hampir sepanjang cerita. Apakah salah? Tentu tidak. Penulis bebas menuangkan ide cerita. Tapi karena seting cerita ini adalah sekolah SMA ternama, mahal dengan berisi orang kaya dan terpandang membuat saya mengerutkan dahi. Saya sebagai anak STM eh mantan maksudnya, sungguh tercengang. Apakah anak SMA sekarang memang memiliki bahasa yang kasar dan kotor seperti dalam cerita tersebut. Saya yang mantan anak STM saja risi membacanya. Bahkan saya pernah menulis tentang plesetan dari kata anjing menjadi anjir dan itu tetap mengganggu gendang telinga saya. Bisa dilihat di tulisan Anjir – Njirr, klik aja.

Hal lain yang mengganggu saya juga, kawan sekelas saya waktu SMP masuk SMA favorit yang berisi kebanyakan orang kaya dan terpandang. Saat bertemu saya yang anak STM ternyata dia merasa risi dan menjauh. Dulu saya tidak menyadarinya, apa dan kenapa. Tapi beberapa waktu silam saya coba klarifikasi, ternyata karena saya adalah anak STM. Damn, andaikan dulu masuk SMA mungkin saya akan memiliki banyak cerita untuk diungkap dalam novel, oh tidak, belum tentu. Case closed. Dari pengalaman saya tersebut, dimana anak SMA risi dengan anak STM, menandakan bahwa seyogyanya anak STM itu lebih kasar dan kotor dalam tutur bahasa. Tapi mengapa saya risi membaca kata-kata dalam novel wattpad di atas, dimana anak SMA mengucapkan kata-kata yang bagi saya sungguh melukai jiwa, ingat, saya mantan anak STM lho. Dan novel yang belum selesai tersebut ternyata memiliki banyak follower dan komentar yang menginginkan lanjutan cerita. Ribuan, dan saya tidak menemukan komentar yang protes akan bahasa anak SMA yang ada dalam alur cerita tersebut.

Mungkin saya perlu survey, melakukan penelitian ke beberapa sekolah ternama di Jakarta untuk membuktikan tutur bahasa anak SMA jaman sekarang. Tapi kan pandemi dan kebanyakan sekolah melakukan PJJ. Jadi saya harus bagimana. Sebagai mantan STM saya jadi galaw. Ataukah saya ini anak STM yang berjiwa SMEA?(tri)

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Asu Buntung Generation

  1. ndesoedisi berkata:

    Jaman wis berubah Lik, jaman siki sing payu ya sing kaya kuwe, bahas motor nang yutub be isine akeh sing kaya kuwe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s