Trust


PROLOG

“Hai, Cina. Njaluk duite!”

5 anak berseragam SMA menghadang seorang anak lain yang bermata agak sipit dengan seragam serupa hanya lebih bersih dan nampak masih baru, sepert siswa baru yang masuk jenjang lanjutan atas. Suatu siang lewat tengah hari di terminal Purwokerto. Di salah satu sudutnya yang kurang rapi dan sepi. Karena diabaikan, salah satu dari lima anak itu menghampiri si sipit dan memegang kerah bajunya lalu menghentaknya, “Kowe budek apa su?”

“Kowe njaluk apa malak?”, si sipit nampak tak gentar.

“Cina kemlithak ya” si pemalak naik pitam dan menyerang dengan tinjunya, tapi si sipit berhasil berkelit, membuat 4 anak lainnya berang dan berbarengan mereka mengurung si sipit, membuat sipit terpojok dan “Bugh!” sebuah pukulan telak mengenai perut membuatnya sedikit terhuyung.

“Woi, ngapa kroyokan, kaya cah cilik bae”. Teriakan disertai sesuatu benda yang dipukul dan menimbulkan suara keras, berdentang, menghentikan aksi pengeroyokan itu, semua pengeroyok juga si sipit menengok ke arah suara yang cukup mengagetkan. Nampak anak dengan seragam yang sama menghampiri sambil menggenggam sebatang pipa besi. Anak ini postur tubuhnya tidak jauh beda dengan pengeroyok maupun si sipit tapi dia memiliki badan yang cenderung lebih tegap. Sepertinya tadi dia memukul tong sampah dari drum menggunakan pipa besi yang ia pegang. Pipa besi berdiameter 2 inci, dengan panjang kisaran 1 meter, jelas membuat semua anak di situ gentar. “Nek wani single jal, sing menang ulih duit, tek imbuih nang nyong wis, sing kalah mbayar karo ngambung tangane sing menang”, lanjut si pendatang provokatif sambil memukul-mukulkan pipa besi ke telapak tangan kirinya. Ulahnya jelas membuat gentar semua yang ada di situ, pipa besi 2 inci tidak mungkin dilawan tangan kosong. meski mereka berjumlah berkali lipat sekalipun. Apalagi mental si pendatang jelas di atas rata-rata anak SMA.

“Ayuhlah, sapa sing rep makili single karo nyong?” si Sipit memecah kesunyian di antara pengeroyoknya. Dia mundur dan bersiap dengan kuda-kuda.

“Hiat…!!”. sekonyong-konyong salah satu pengeroyok dengan tubuh paling besar melompat menerjang ke arah si sipit. Kepalan tangan itu mengarah ke kepala sipit. Sipit berkelit dan menangkis pukulan atas si besar. Selanjutnya keduanya terlibat pertarungan yang cukup berimbang. Tapi tidak berlangsung lama. Si Sipit jelas bukan anak sembarangan, karena beberap menit kemudian dia bisa merubah keadaan. Gerakan tangan dan kakinya jelas bukan gerakan sekedarnya, tapi memiliki seni dan terarah dengan baik. Beberapa tinju dan tendangan sudah mengenai si Besar, dan untuk kesekian kalinya, sebuah tendangan mengenai dadanya membuat Besar terjerembab ke aspal terminal yang berlumpur. Dia pegang ulu hatinya yang terasa nyeri.

Melihat si besar ambruk, 4 temannya menyerang bersamaan ke arah si sipit. “Bruagng….!”. Terdengar suara tong sampah drum dipukul oleh si pendatang menggunakan pipa besi. “Banci, kroyokan maning. Nek lanang aja ingkar janji, sing kalah mbayar plus salaman ambung tangan sing menang”.

Semua gerakan pengeroyok terhenti, sipit tetap siaga dengan kuda-kuda bertahan. Pendatang menaruh pipa besi, maju selangkah memandang ke arah pengeroyok, “Sing ra trima, ayuh maju ngeneh”. Pengeroyok yang melihat pipa besi diletakan oleh pendatang membuat keberanian mereka naik drastis. Serempak menerjang pendatang, menghujani dengan pukulan dan tendangan. Pendatang berkelit dan membalas pengeroyok dengan enteng. Sikap tenang, tidak panik adalah kunci mematahkan para penyerang yang penuh ambisi dan emosi. Karena emosi jelas membuat serangan mereka tidak terarah dan serampangan, mudah ditebak, dihindari dan dipatahkan. Sipit tak tinggal diam, dia membantu pendatang dan dalam waktu singkat semua pengeroyok babak belur terjerembab, terjungkal dan akhirnya mereka pergi dengan sorot mata kekalahan.

“Kesuwun”, kata si Sipit pada pendatang.

===============***==============

===============***==============

SAAT KEPERCAYAAN MENJADI JALAN HIDUP, MAKA KEJUJURAN ADALAH NAFAS YANG MEMBERI KEHIDUPAN ITU BERJALAN

===============***==============

===============***==============

SUDUT PASAR

Sinar matahari masih terasa hangat, pertanda hari masih bisa dibilang pagi. Semeru nampak gagah meski sebagian permukaannya tertutup kabut. Seorang lelaki muda berjalan menyusuri gang kecil setelah keluar dari kamar kostnya. Dia, Yasir. Anak muda yang sedang menuntut ilmu di sebuah universitas di Malang, bukan Unmuh atau Universitas Muhammadiyah yang kesohor itu, tapi Unmar atau Universitas Mardika.

Yasir kembali melanjutkan menuju jalan utama, melewati Pasar Tradisional Mergan yang hiruk pikuk di pagi hari. Suara Cak No tertawa begitu nyaring. Cak No adalah tukang becak yang mangkal di sekitar Pasar Mergan, tepatnya di sisi tenggara, pojok luar dari pasar tradisional tersebut. Di sebelah Cak No nampak becak Cak Wari yang juga mangkal di situ. Berdua mereka sedang menggoda tukang selip parut kelapa di samping jajaran becak.

Pada pagi hari, pinggiran jalan di sekitar Pasar Mergan memang menjadi pasar kaget. Didominasi penjual sayuran segar. Jelas nampak di sebelah tukang parut kelapa berjajar slada air yang nampak baru dicabut, segar buat lalapan dengan sambal trasi dan nasi hangat mengepul. Yasir menelan ludah membayangkan hal tersebut, rasa lapar tiba-tiba menyeruak perutnya yang memang belum sempat terisi dari pagi tadi. Karena pagi buta sebelum subuh, Yasir harus segera menuju bédak ( sebutan kios atau toko) Pak Atmaja untuk mengatur dan menata bawang putih yang baru tiba. Ya, kiriman besar tadi pagi membuat Yasir menguras tenaga agar barang dagangan rapi dan mudah saat ada pembeli mengambil.

9 bualn lau, Yasir terdampar di kota yang memiliki julukan kota pendidikan ini. Awalnya tidak ada tujuan kerja yang pasti, apalagi untuk menjadi kuli panggul di salah satu pasar yang masuk pinggiran Kota Malang ini. Yasir hanya mengikuti instingnya, bahwa kepergiannya ke timur akan menemukan tujuan hidup. Lari dari hal yang dia sendiri sulit mendifinisikan, yang pasti lari dari kehidupan lamanya, lari dari bayang-bayang keluarga, lari mencari jati diri. Lari dari rumahnya yang nyaman di sisi tengah pulau Jawa. Maka di saat kebanyakan dari penduduk kampungnya mengadu nasib ke ibukota dan sekitarnya, Yasir memilih ke timur pulau dengan penduduk paling besar ini. Dia yakin, dia tidak akan terdeteksi oleh orang sekampungnya seperti yang terjadi beberapa bulan lalu, dan berakhir dia terpaksa pulang kampung, karena tetangganya itu telah mengadu kepada ibunya dan menyampaikan pesan agar dia pulang. Karenanya dia harus mengahiri perantauan di Bandung. Bandung, memang kota yang banyak menjadi tujuan mengadu nasib rekan sekampungnya.

===============***==============

JALAN BECAK

Dengan bekal uang tabungan seadanya dari kerja di Bandung, Yasir kembali lari mengejar jati diri. Dia pamit kepada ibunya dan meyakinkan perempuan renta itu bahwa dia akan meraih mimpinya di suatu tempat sampai akhirnya hati ibunya pun luluh mengikhlasan kepergiannya. Menumpang Matarmaja, kereta ekonomi dengan penumpang memenuhi hampir tiap kursi penumpang. Mungkin karena sedang libur semester, karena nampak penumpang yang beranggotakan anak-anak. Yasir segera menuju gerbong 3 kursi 13D. Tapi ternyata kursi tersebut sudah terisi. Dua orang perempuan dengan umur yang jelas terpaut sangat jauh, nampak dari tampilan dan wajah keduanya. Mungkin Ibu dan anaknya, si anak sekira umur 16 tahun atau lebih sedikit, sedangkan si ibu mungkin kisaran 55an atau lebih.

“Permisi, ini kursi saya sesuai dengan tiket di sini” Kata Yasir sambil menunjuk tiket yang dia pegang.

“Oh iya, maaf ya Nak”, si ibu menjawab sopan. “Kita tukeran tempat duduk ya nak, tadi kami beli tiket cukup mendadak jadi dapat kursi sisa yang ada, ternyata terpisah gerbong”. Lalu si ibu pun mengisahkan selengkapanya, bahwa dia ingin bertukar tempat duduk biar bareng sama keluarganya, jika mengikuti nomor di tiket, dia seharusnya di gerbong 5. Memahami hal tersebut, Yasir mengiyakan dan hendak berlalu ke gerbong yang dimaksud. Tapi setelah melewati gerbong 4, Yasir berbalik, dia lupa nomor kursi si ibu. Mungkin karena sibuk dengan pikirannya, yang sedang menimbang tujuan perjalanan kali ini, jadi kurang fokus.

“Maaf, nomor kursinya berapa tadi ya Bu? Maaf saya lupa” Sapa Yasir setelah kembali ke 13D gerbong 3.

“Yowes tukeran tiket mesisan ae, iki, kene tiketmu”, Jawab si ibu sambil menyodorkan tiketnya. Jawaban yang cukup mengagetkan karena berubah menggunakan bahasa daerahnya. Yasir reflex mengulurkan tiket dan menerima tiket dia. “Ojo diundang ibu, aku ki wis tuek, iki putuku, dudu anaku”, tambahnya lagi sambil menunjuk gadis muda di sampingnya yang nampak agak rikuh dengan tingkah neneknya. “Undang Eyang ae yo le”, imbuhnya lagi dengan nada yang lebih ramah.

“Enggih Eyang, monggo”, jawab Yasir sopan sambil berlalu setelah mengangguk ke si eyang dan gadis di sampingnya.

Setelah hampir 24 jam menempuh perjalanan dari Stasiun Kroya, akhirnya Matarmaja mengahiri tujuan perjalanan di stasiun Malang.

Yasir tidak punya tujuan pasti, karena memang tidak punya sanak family di kota ini. Dia hanya membawa tas ransel berisi pakaian 3 setel dan ijasah SMA.

Turun dari kereta, Yasir mencoba mengamati stasiun yang pertama kali ini dia singgahi, cukup besar, batin Yasir, mirip stasiun Purwokerto, kembali Yasir bermonolog sambil mencari pintu keluar. “Bukakah itu si eyang dan cucunya?”, bisik Yasir.

Nampak si eyang dan cucunya membawa barang bawaan yang cukup banyak, 1 ransel, 1 koper dan 3 dus. Yasir tidak tega melihat pemandangan tersebut, karena nampak sangat kerepotan, mengapa tidak ada porter yang membantu? Yasir kembali bermonolog. Segera dia beranjak mendekat.

“Bu, eh Eyang, boleh saya bantu bawakan barangnya?” Yasir menyapa dengan sedikit tergagap, kawatir dianggap tidak sopan dan sok akrab.

“Ra ngrepoti kon tah le?” Jawab si eyang dengan nada yang datar. Yasir juga mulai memahami, ini adalah logat aseli Malang, yang katanya memang cukup kental atau boleh dibilang bandék paling kasar seantero Jawa.

“Mboten Eyang, kulo namung mbekto tas gendong”, Yasir menengok ke tas punggung ya dia sandang.

“Oh yowes kebeneran, gowonen iki ae nang parkiran. Ayo ndang mlaku nduk, iki kakangmu kok suwe men dienteni, ra moro-moro”. Jawabnya sambil mengangsurkan 2 kardus dan mengajak cucunya melangkah. Si gadis muda nampak makin rikuh, tadi sempat mau melarang Yasir membantu, tapi si eyang sudah duluan menyetujui tawaran Yasir. Mereka ternyata sedang menunggu jemputan dari Kakak si gadis muda itu.

Sesampai di parkiran, Yasir menemani dua permepuan beda umur itu sesaat, sebelum akhirnya nampak mobil SUV merapat dan lelaki gagah mengenakan jaket kulit cokelat turun dari kursi kemudi. Seragam militer yang masih dikenakan nampak di bali jaket, mungkin dia masih dinas tidak jauh dari stasiun.

“Akhire teko juga kon”, sapa si nenek sama lelaki itu. Yasir segera berpamitan sekenanya dan berlalu, si eyang juga nampak sudah menganggapnya tidak ada, mungkin karena kesal menunggu, hanya si gadis muda yang mengangguk tersenyum tanda terimakasih.

Sisi luar stasiun ternyata jalan besar dengan hiruk pikuk lalu lintas dan pedagang kaki lima yang memadati sepanjang trotoarnya. Yasir tidak mau terlihat kebingungan yang bisa mengundang kecurigaan dari orang yang berniat jahat, segera dia melangkah menyeberang jalan menuju sebuah taman yang cukup asri di seberang stasiun. TRUNOJOYO. Yah itulah nama taman yang terpampang di depan pintu masuk taman. Dengan aneka tanaman memayungi area taman, juga ada Playground bagi anak-anak yang terpampang di beberapa sudut taman, ada ayunan, prosotan dan aneka mainan sederhana lain. Juga kursi taman yang ditata sedemikian rupa, mungkin diperuntukkan bagi orang tua mengawasi anaknya yang bermain, sekaligus pelepas penat bagi siapapun yang masuk ke taman tersebut, gratis, tentu saja, ini ruang publik

Yasir beranjak mencari kursi taman yang kosong, mengeluarkan air mineral dari tas ransel dan tiga tegukan cukup mengendurkan ketegangan di otaknya. Dia harus berpikir jernih untuk melanjutkan perjalanannya.

Pinggiran, ya pinggiran kota akan lebih aman daripada di jantung kota yang ramai ini, monolog Yasir dalam hati. Tapi kemana? Kembali Yasir menimbang arah yang akan dia tempuh.

Dia bangkit, meraih tas dan botol air mineralnya, menyusuri trotoar hingga menemukan angkutan umum berwarna biru tua yang sedang ngetém. “Dinoyo Cak, Landungsari, mau ke Batu?” Tanya kondektur angkot menawarkan ke Yasir. Entah kondektur atau calo.

Yasir berpikir sejenak, “Ya”. Jawabnya cepat sambil melangkah mendekat dan masuk ke angkutan yang dia sendiri tidak paham mau kemana, tapi dia tidak mau kelihatan seperti orang bingung, berbahaya, pikirnya.

Sudah ada 3 penumpang di dalam angkot tersebut, setelah 5 menit menunggu, bertambah 3 lagi akhirnya mobil itupun jalan berganti dengan mobil angkot lain bergantian, nampaknya ini adalah temapat ngetem sementara dari trayek angkot denga kode ADL tersebut.

Ternyata orang tadi bukan kondektur juga bukan calo, tapi sopir angkot ini.Sepanjang perjalanan, Yasir sesekali mengedarkan pandangan keluar angkot, sambil berpikir, mau kemana dia selanjutnya.

Melintas alun-alun dengan sentral sebuah tugu menjulang dikelilingi kolam yang dipenuhi enceng gondok dengan air menghijau, nampak kurang terawat atau memang disengaja, bati Yasir. ADL yang ternyata singkatan dari jalur trayek angkotan tersebut, yaitu Arjosari, Dinoyo dan Landungsari. Jadi tadi sebelum menuju Stasiun, angkot tersebut dari terminal Arjosari dan sekarang menuju Dinoyo. Yasir mengetahui dari obrolan penumpang di sebelahnya, bukan dengan dirinya tapi mengobrol dengan rekan penumpang lainnya, Yasir hanya menjadi pendengar sekaligus mengumpulkan informasi tentang kota asing yang baru pernah disinggahinya ini.Angkot selanjutnya melewati kantor polisi, nampaknya Polres Malang Kota “SIDIK SAKTI INDERA WASPADA” nampak tulisan tersebut menyatu dengan lambang mirip nahkoda kapal terpampang di dinding depan gedung yang cukup megah. Selanjutnya angkot melewati stadion kebanggan Kera Ngalam, Gajayana. Ya Kera Ngalam merupakan kata balik dari Arek Malang. Di Malang sudah menjadi lumrah mengucap kata dibalik, bahkan sepanjang jalan mudah ditemukan kata-kata Ongis Nade, maksudnya adalah Singo Edan, julukan suporter kesebelasan Arema atau Aremania. 2 orang penumpang turun saat mendekati kantor Bank BRI.Yasir masih terus mengerling keluar angkot, sampai nampak tulisan Universitas Muhammadiyah Malang. Hatinya bersorak, tapi masih tertahan oleh perasaan gundah lain. Ya, yasir ingin menuntut ilmu lanjutan setelah lulus SMA, sayang, hal itu kandas karena banyak faktor, biaya menjadi salah satu yang dominan. Tapi melihat nama universitas barusan, Yasir merasa bersemangat untuk meraih impiannya.

“Dinoyo, Dinoyo”, sopir sekaligus kondektur menoleh ke kursi penumpang belakang. Memastikan jika adayang mau turun.”Ya, kiri Mas”, Yasir menjawab cepat, entah apa yang membuat dia memutuskan untuk turun di Dinoyo.

Setelah membayar 3ribu perak ke supir angkot, Yasir membalikan badan, mengedarkan pandangan, perutnya perlu diisi. Segera dia menuju warteg yang nampak cukup ramai di siang hari itu. Menu sederhana dia pesan, cukup lauk telor dadar dan sayur lodeh serta teh hangat tanpa gula. Harus berhemat, batin Yasir. Sambil makan Yasir kembali memikirkan langkah yang akan diambil. Akan kemana kaki ini diajak. Masjid. Bagi Yasir, masjid adalah tempat paling bersahabat di muka bumi, kapanpun dan dimanapun. Masjid juga tempat yang nyaman untuk menenangkan pikiran, Yasir berharap setelah menunaikan kewajiban dirinya sebagai mahluk, dia dapat menentukan arah tujuan yang tepat.

Selepas dari masjid, Yasir menyusuri trotoar jalan sambil membaca koran bekas yang tadi dia ambil tergeletak dekat tempat duduk pinggir jalan. Pura-pura membaca, untuk menyembunyikan roman wajahnya yang masih galau akan tujuan. Setelah kurang lebi 15 menit berjalan, Yasir menyetop angkot yang lewat. Kode angkot JDM. Dari tulisan di kaca depan angkot dan obrolan penumpang, angkot ini memiliki trayek Joyogrand, Dinoyo dan Mergan. Yasir masih setia dalam Angkot hingga sampai pada suatu tempat dan nampak angkot berkumpul pertanda akhir tujuan angkot atau angkot putar balik.”Mergan”, kata sopir sambil mengerem dan berhenti berjajar mengikuti alur angkot yang sudah dulu sampai titik kumpul tersebut.

Yasir terpaksa turun, karena memang sudah tidak ada lagi penumpang lain selain dirinya. Setelah membayar, Yasir berjalan kembali ke arah jalan raya. Terlihat seorang tukang becak berhenti di pinggir jalan sedang mengotak-atik becaknya. Entah insting atau sekedar ingin tahu, Yasir mendekat ke tukang becak tersebut. Ternyata rantai becak nyangkut keluar gear, terlipat seolah kaku.

“Kenapa Pak?”. tanya Yasir basa-basi yang mengagetkan si tukang becak.

“Opo kon, takon-takon”, sungut si tukang becak. Nampak peluh memenuhi kening dan lehernya. Logat kental Malang yang tanpa basa-basi dan terkesan kasar.

Yasir memungut 2 buah batu sebesar kepalan tangan di pinggir jalan,”Boleh saya bantu?”, tanya Yasir kemudian.

“Oh kon dudu wong kene ta? Emang kamu bisa?”. Si Tukang becak merubah tata bahasanya karena menyadari Yasir yang tidak bergeming mendengar kata kasarnya barusan.

“Sepertinya kurang pelumas rantainya, jadi as rantai kaku karena karat yang timbul di mata rantai”. Yasir meraih batu, dia fokus pada titik mata rantai yang nampak kaku, satu batu menjadi tumpuan mata rantai sisi dalam, batu satunya dia pukulkan pelan ke mata sisi luar. Berulang sambil digerkan, berlanjut ke mata rantai lain yang kaku. Dilakukan dengan pelan dan berulang, tujuannya agar karat yang menahan gesekan mata rantai pecah dan rontok. Setelah beberapa saat akhirnya rantai muali lemas dan bisa diangkat masuk ke jalur gear. Tukang becak yang menonton, jadi bengong. Tidak menyangka anak yang baru pernah dilihatnya ini tidak segan belepotan karat bercampur oli kering.

“Kamu anak mana? Saya baru pernah lihat”, katanya kemudian.

Yasir berpikir sejenak sebelum menjawab, mungkin ada baiknya dia jujur, apalagi hari beranjak sore. “Iya, saya baru sampai, dari Jawa Tengah” Jawab yasir dan akhirnya Yasir jujur bahwa belum punya tempat menginap dan bermaksud mencari kos-kosan. Gayung bersambut, tukang becak yang mengaku bernama Nono dan lebih akrab disapa Cak No itu akhirnya mengajak Yasir bareng pulang ke rumah kontrakannya, dia bilang di samping kontrakan yang dia tempati masih ada yang kosong, lebih kecil karena diperuntukan untuk perorangan, jadi biaya sewa setara kos-kosan.

===============***==============

Tentang Triyanto Banyumasan

Mencoba Tersenyum di saat marah itu perlu
Pos ini dipublikasikan di Novel dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Trust

  1. ndesoedisi berkata:

    Absen lik 😁

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s